Showing posts with label roma doni. Show all posts
Showing posts with label roma doni. Show all posts

Thursday, January 29, 2015

Bambu Gila, Permainan Tradisional Penuh Mistis

Mungkin anda akan terheran dan bertanya penuh rasa penasaran bila menyaksikan permainan tradisional yang satu ini. Bagaimana tidak, sebuah batang bambu mampu mengendalikan beberapa orang yang memegangnya dan bahkan sampai ada yang terpental jika tak kuat menahan gerakan dari bambu tersebut. Yah, inilah salah satu permainan tradisional asal Maluku yang cukup terkenal dan menjadi daya tarik wisatawan jika berkunjung ke wilayah ini.

Oleh masyarakat setempat permainan ini dikenal dengan nama Buluh Gila atau Baramasuweng, sementara kebanyakan orang lebih populer untuknya mengenalnya dengan nama permainan Bambu Gila. Tidak seperti permainan tradisional lainnya, permainan ini mengandung unsur mistis yang melibatkan kekuatan supranatural. Sehingga sebuah bambu yang dipegang oleh beberapa orang mampu bergerak sendiri dengan tidak beraturan dan membuat orang-orang yang memegangnya kesulitan untuk menahan gerakan bambu yang seolah sedang berubah menjadi ‘gila’ tersebut.

Objek yang digunakan dalam permainan ini hanya sebatang bambu, yaitu dengan ukuran panjang sekitar 2,5 m dan diameter 8 cm. Namun ada juga beberapa daerah di Maluku yang menggunakan alat musik perkusi sebagai tambahan untuk mengiringi permainan ini. Untuk bambunya sendiri, tidak sembarang bambu bisa digunakan. Hanya bambu lokal daerah tersebut yang bisa dipakai, dan itupun sebelumnya harus dilakukan sebuah ritual khusus dalam pemilihan bambunya.



Permainan bambu gila biasanya dimainkan oleh 5 atau 7 orang pemain (ganjil), dan seorang pawang yang bertugas untuk mengendalikan permainan. Untuk memainkan permainan ini memerlukan lapangan yang cukup luas. Para penonton disarankan agar tidak menyaksikannya dengan jarak yang terlalu dekat, dikhawatirkan gerakan mistis dari bambu gila yang tidak beraturan itu akan jadi berbahaya bila mengenai penonton.

Cara permainan ini sederhana, di sini para pemain diminta untuk mendekap atau memeluk sebuah batang bambu yang sudah dipilih lalu menahannya dalam dekapan agar bambu tidak terlepas atau jatuh. Permainan akan dimulai ketika sang pawang telah selesai membakar kemenyan yang ditaruhnya dalam tempurung dengan membaca mantera-mantera tertentu. Bakaran kemenyan dan bacaan mantera-mantera itu bertujuan untuk memanggil sesuatu yang gaib seperti ruh makhluk halus yang nantinya memberikan kekuatan mistis untuk menggerakkan bambu tersebut.

Dalam upaya memasukkan sesuatu yang gaib ke dalam bambu, asap dari pembakaran kemenyan terus dihembuskan ke dalam bilah bambu. Dan ketika sang pawang sudah berhasil memasukkan kekuatan mistis itu maka permainan pun telah di mulai. Bambu dengan sendirinya akan bergerak ke sana - ke mari. Para pemain yang mendekap bambu itu akan kesulitan menahan gerakan bambu gila ini.



Herannya, semakin bambu ditahan, gerakan bambu akan semakin kuat dan cepat. Tidak jarang bagi para pemain yang tidak kuat menahannya akan terpental oleh karena gerakan si bambu gila ini. Satu hal lagi yang menyadarkan bahwa permainan ini mengandung kekuatan mistis adalah gerakan atau arah bambu yang mengikuti arah asap kemenyan yang dibawa oleh sang pawang. Ke mana arah asap bergerak maka bambu pun seolah mengikutinya.

Sembari membawa tempurung kemenyan, sang pawang biasanya terus meneriakkan mantera secara berulang-ulang. Setiap kali pawang mengucapkan mantera “Baramasuweng!! (bambu gila-red)” para pemain secara serempak meneriakkan “"Idadigougou!! (jadi beneran-red)".

Permainan bambu gila ini akan selesai bila ditandai dengan banyak pemain yang tak sanggup lagi menahan gerakan bambu. Memang di permainan ini tidak jarang pemain terpental dan bahkan ada yang pingsan. Namun kekuatan mistis dari bambu tersebut akan benar-benar hilang ketika pawang membacakan mantera tertentu sambil menutup salah satu ruas bambu dengan telapak tangannya. Barulah bambu akan tenang dan menjadi ringan kembali.

Demikianlah ulasan mengenai permainan tradisional bambu gila dari Maluku yang mengandung unsur mistis di dalamnya. Bagi anda yang tidak percaya dengan hal-hal gaib atau mistis seperti ini, silakan mencoba sensasi permainan tradisional ini dan buktikan sendiri akan kebenarannya.

Oleh : Roma Doni
Sumber Gambar :
Pic 1 : http://kfk.kompas.com/kfk/view/130579-bambu-gila
Pic 2 : http://ensiklopediaindonesia.com/seni-dan-budaya-indonesia/bambu-gila-aura-mistis-dibalik-sebuah-atraksi-asal-maluku/
Sumber Referensi :
http://travel.detik.com/read/2013/09/26/104443/2369818/1519/aura-mistis-di-balik-permainan-bambu-gila
http://www.triptrus.com/news/mistisnya-permainan-bambu-gila
http://www.indonesiakaya.com/kanal/detail/bambu-gila-permainan-tradisional-masyarakat-ambon

Tuesday, January 27, 2015

Bermain Makah-Makah, Menebak Mencapai Tujuan

Nanggroe Aceh Darussalam memang kental akan nuansa agamisnya, sampai-sampai dijuluki sebagai serambi mekah. Pengaruh itu juga akhirnya menjurus kepada permainan tradisional yang terdapat di sana yang namanya juga bernuansa islami, yaitu permainan tradisional Makah-Makah. Bila melihat dari nama yang dipakai, merupakan serapan dari kata “Makkah” yang berarti Mekah, nama sebuah kota yang terdapat di Arab Saudi yang merupakan kiblat bagi umat islam di dunia.

Permainan tradisional Makah-Makah adalah permainan yang mengedepankan unsur kompetisi untuk mencapai sebuah tujuan/sasaran. Titik tujuan yang ingin dicapai inilah yang disebut Makah. Pengertian ini sebenarnya menganalogikan kota Mekah yang merupakan simbol dari pusat kiblat bagi umat islam di dunia. Di mana umat islam akan berlomba-lomba untuk bisa sampai ke tempat tersebut terutama dalam rangka menunaikan ibadah haji dan umrah.

Untuk bisa bermain Makah-Makah tidaklah membutuhkan peralatan yang sulit. Peralatan yang diperlukan hanyalah dua buah batu, sedangkan syarat lainnya harus dimainkan pada tempat yang luas seperti tanah lapang. Fungsi dari kedua batu tersebut adalah dijadikan sebagai alat kompetisi oleh setiap regu. Permainan ini dimainkan oleh sebanyak dua regu saja, di mana masing-masing regu atau kelompok minimal terdiri atas 4 orang pemain atau lebih. Semakin banyak pemain tentunya menambah suasana permainan Makah-Makah menjadi semakin seru.

Pada setiap regu harus memiliki ketua regu. Tugas dari ketua regu adalah mengatur peletakan batu ke para anggota regunya sekaligus ketua regu yang akan menebak peletakan batu pada regu lawan. Dalam memilih ketua regu bisa dilakukan atas kesepakatan bersama atau bisa dengan melakukan pemilihan melalui sistem hom pim pa dan semacamnya.

Cara Bermain

Masing-masing regu saling berhadapan satu sama lain dengan jarak pemisah sekitar dua meter. Tepat di bagian tengah jarak pemisah tersebut diberi pertanda, bisa digambar sebuah titik atau menuliskan tanda garis lurus. Pembuatan tanda harus benar-benar pada posisi yang adil, artinya benar-benar dibuat pada bagian tengah antar regu. Tidak boleh berbeda, misalnya terlalu dekat atau terlalu jauh dengan salah satu regu.

Jika sudah selesai. Maka langkah selanjutnya adalah masing-masing ketua regu meletakkan batu yang sudah dipegang untuk diberikan kepada anggota regunya. Peletakan batu harus dilakukan dengan hati-hati jangan sampai diketahui oleh regu lawan. Oleh karenanya, selain ketua regu harus pintar mengecoh lawan, di sini para anggota juga harus pandai berpura-pura dengan seolah-olah batu yang dipegang ketua regu diberikan kepadanya. Padahal dari semua anggota regu hanya satu orang anggota saja yang mendapatkan batu tersebut.

Bila batu sudah diletakkan, sekarang tugas ketua regu adalah menggunakan insting yang tajam untuk bisa menebak keberadaan peletakan batu pada regu lawan. Misalnya telah ditentukan regu mana yang akan menebak duluan, regu A misalnya. Maka, ketua dari regu A akan mencoba menebak keberadaan batu yang berada di masing-masing anggota regu B.

Apabila tebakan ketua regu A benar, maka regu A boleh untuk berpindah satu langkah ke depan. Dengan begitu regu A bisa semakin lebih dekat ke titik tujuan. Sebaliknya apabila tebakan regu A ternyata salah, maka regu B lah yang diperbolehkan melaju satu langkah ke depan. Begitu Seterusnya. Puncaknya, regu mana yang berhasil sampai duluan ke titik tujuan tadi, maka dialah yang akan menjadi pemenangnya.

Unsur Nilai Budaya

Sebagaimana permainan tradisional pada umumnya yang kaya akan nilai-nilai budaya yang bermanfaat, begitu juga pada permainan Makah-Makah. Beberapa nilai budaya diantaranya :

  • Kekompakan : Permainan ini mengajarkan kekompakan pada masing-masing anggota dan dengan ketua regu. yaitu untuk bisa menciptakan kesepahaman dan saling pengertian antar ketua dengan anggota, bisa dilihat dalam hal peletakan batu sampai penebakan batu regu lawan.
  • Kepemimpinan : Khususnya bagi yang terpilih sebagai ketua regu, permainan ini melatih untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan sekaligus kedewasaan berpikir. Bagaimana ketua regu harus bisa menyatukan pendapat dan mengambil sebuah keputusan yang mampu memberikan hasil yang baik.
  • Kepercayaan : Ketua regu dan para anggota harus saling percaya satu sama lain merupakan kunci dari permainan ini. Tanpa nilai kepercayaan bisa dipastikan penampilan regu ini tidak akan maksimal. Karena pasti akan ada orang yang tidak menjalankan amanatnya dengan baik.

Demikian mengenai permainan tradisional Makah-Makah, dengan segala nilai positif di dalamnya, tentunya permainan ini sangat direkomendasikan untuk diperkenalkan pada generasi sekarang, supaya keberadaannya tidak pudar dan hilang termakan zaman.

Monday, January 19, 2015

Permainan Tradisional Pletokan

Disebut dengan nama Pletokan dikarenakan bunyi yang dihasilkan dari permainan ini berbunyi “pletok”. Permainan tradisional ini berasal dari Jakarta yang merupakan permainan khas masyarakat Betawi. Meski demikian, tidak hanya dikenal oleh masyarakat Jakarta, permainan pletokan juga diketahui dan dimainkan di beberapa daerah lain di Indonesia.

Permainan ini dimainkan oleh anak laki-laki berusia 6-13 tahun, dimainkan secara perorangan atau kelompok. Bila dimainkan perorangan biasanya sasaran utamanya adalah binatang berupa serangga-serangga kecil. Sementara, bila dimainkan per kelompok, maka sasaran permainan ini adalah lawan dari kelompok itu. Jadi, gambaran permainan ini seperti bermain tembak-tembakan atau perang-perangan, cuma alat yang digunakan di sini bukan pistol mainan atau sejenisnya melainkan dengan memanfaatkan bambu kecil.

Bambu kecil yang dipakai memiliki ukuran panjang 30 cm dan berdiameter 1/2 sampai 1 cm. Jumlah bambu yang dibutuhkan untuk permainan ini ada dua, yang pertama sebagai bedil larasnya, dan yang satunya lagi sebagai penolak atau sodokan untuk menembakkan peluru dari dalam bambu. Untuk bambu yang kedua, bambu harus dibuat (dengan cara diraut) sesuai dengan lingkaran laras pada bambu pertama, dan pada bagian pangkal bambu itu dibentuk untuk pegangan berukuran sekitar 10 cm.

Sedangkan pelurunya bisa dibuat dari kertas, biji jambu, kembang atau dedaunan. Khusus untuk peluru kertas dan dedaunan, agar dapat dibentuk bulat maka kertasnya harus dibasahkan kemudian dibentuk seperti bola-bola kecil. Supaya alat mainan ini awet dan tahan lama pilih bambu yang sudah tua dan kuat agar bambu tidak mudah pecah saat digunakan.


Gambar 1. Alat Pletokan

Cara bermain pletokan cukup mudah. Masukkan peluru yang tersedia (kertas, biji jambu, dedaunan) ke dalam lubang bambu pertama selaku bedil larasnya. Peluru yang dimasukkan terdiri atas dua peluru. Peluru pertama dimasukkan dan didorong ke ujung bedil laras, kemudian peluru kedua dimasukkan sekaligus ditolak atau disodok agak kuat dengan batang bambu penolak seolah ingin menembak agar peluru pertama tadi dapat keluar dengan tekanan yang cepat dan kuat.

Pertanyaannya, mengapa peluru yang dimasukkan ke dalam bambu harus dua? Karena fungsi dari peluru kedua adalah sebagai klep pompa untuk menembakkan peluru yang pertama, juga sebagai peluru yang selanjutnya akan ditembakkan. Tanpa memasukkan kedua peluru sekaligus maka tekanan penembakan peluru tidak akan kuat dan jauh.

Coba perdengarkan suara yang keluar dari bedil larasnya ketika peluru pertama ditembakkan, pasti suara yang muncul akan berbunyi “pletok”. Jika pembuatan alat ini sudah berhasil, permainan pletokan pun bisa dimulai. Bila dilakukan berkelompok sebagaimana peperangan maka kita harus menghindari tembakan peluru lawan, dan berusaha menyerang lawan dengan tembakan peluru dari alat pletokan ini.

Jangan salah, walaupun terbuat dari batang bambu, tembakan pelurunya bila terkena kulit juga terasa agak sakit, hal ini khususnya bila peluru yang digunakan berupa biji jambu. Tapi jika peluru berupa kertas dan dedaunan, tentunya tidak begitu terasa. Yang jelas, tidak perlu khawatir saat bermain permainan tradisional pletokan ini, karena permainan ini tidak berbahaya dan aman dimainkan anak-anak.

Dewasa ini bentuk alat pletokan tidak lagi monoton yaitu hanya sebatas bambu lurus memanjang saja, sekarang bentuk alat pletokan telah didesain semakin rumit, namun kerumitan bentuk itu justru membuatnya terlihat cantik, indah dan semakin nyata bentuknya dalam menyerupai bentuk pistol. Hebatnya lagi, desain yang baru ini masih tetap memakai bambu sebagai bahan dasarnya, begitupun untuk peluru yang digunakan.


Gambar 2. Pletokan Terbaru

Di tengah maraknya permainan modern yang didukung kecanggihan teknologi, permainan tradisional sebagai salah satu warisan budaya nenek moyang tidak boleh dilupakan. Mari perkenalkan anak-anak anda dengan permainan tradisional, salah satunya permainan Pletokan ini.

Oleh : Roma Doni
Sumber Photo :
Pic 1 : http://www.kaskus.co.id/post/52ec85d45bcb174b5c000102
Pic 2 : http://sejarah.kompasiana.com/2013/07/23/pletokan-dari-era-bambu-runcing-sampai-senapan-serbu-576093.html

Sumber Referensi :
http://sejarah.kompasiana.com/2013/07/23/pletokan-dari-era-bambu-runcing-sampai-senapan-serbu-576093.html
http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1519/permainan-pletokan