Showing posts with label lagu. Show all posts
Showing posts with label lagu. Show all posts

Thursday, January 22, 2015

Keseruan Aksi Bikul dan Meng dalam Permainan Meong-Meongan

Perkembangan teknologi di era globalisasi ini membuat banyak anak-anak lebih sering menghabiskan masa kecilnya dengan bermain permainan digital. Sudah jarang sekali terlihat anak-anak yang bermain permainan tradisional, seperti misalnya petak umpet, egrang, benteng, lompat tali, dan ular naga. Padahal permainan-permainan tradisional itu sangat murah dan mudah dimainkan, dibandingkan dengan bermain gadget. Selain itu, nilai positifnya juga lebih banyak, di mana anak-anak belajar untuk bekerja sama saat bermain meong-meongan misalnya. Keakraban juga lebih terjalin saat bermain bersama. Anak-anak zaman dulu jarang sekali tidak mengenal teman-temannya yang letak rumahnya berdekatan.

Ada satu permainan yang sangat populer, karena harus dimainkan bersama dan selalu menimbulkan teriakan dan gelak tawa dalam pelaksanaannya, yaitu meong-meongan. Bagi anak-anak yang menjalani masa kecil sebelum era teknologi, permainan meong-meongan bukanlah hal yang asing. Permainan tradisional ini berasal dari Bali dan juga dimainkan di beberapa daerah di Pulau Jawa, namun dengan nama yang berbeda. Di Pulau Jawa, permainan meong-meongan dikenal dengan nama kucing-kucingan. Walau namanya berbeda, namun cara bermain dan prinsipnya tetap sama. Di samping sebagai hiburan, permainan juga ditujukan sebagai olahraga karena membutuhkan gerakan-gerakan jasmani.


Gambar 1. Permainan meong-meong

Tidak ada yang tahu dengan pasti siapa yang menciptakan permainan meong-meongan dan kapan terciptanya. Yang jelas, permainan ini telah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Permainan Meong-meongan umumnya dimainkan oleh anak-anak Bali dengan diiringi lagu meong-meong. Biasanya permainan ini diikuti oleh 8 orang bahkan lebih, di mana 1 orang pemain berperan sebagai bikul (tikus), 1 orang berperan sebagai meng (kucing) dan pemain lainnya berkewajiban melindungi bikul dari serangan meng dengan membentuk lingkaran. Si bikul berada di dalam lingkaran tersebut, sedangkan si meng berada di luar lingkaran dan akan berusaha masuk untuk menangkap bikul. Sambil menyanyikan lagu meong-meong, para pemain yang membentuk lingkaran berusaha menghalangi meng agar tidak sampai masuk ke dalam lingkaran. Lirik lagu meong-meong sangat singkat dan mudah diingat, yaitu meong-meong, alih je bikule. Bikul gede-gede, buin mokoh-mokoh. Kereng pesan ngerusuhin. Juk Meng! Juk Kul! Juk Meng! Juk Kul. Lagu Meong-meong ini dinyanyikan para pemain sambil berputar dan ketika sampai pada lirik “Juk Meng! Juk Kul! Juk Meng! Juk Kul”, Meng pun mulai mengejar Bikul. Lirik ini akan selesai dinyanyikan bila Meng berhasil menangkap Bikul. Setelah Bikul tertangkap, nyanyian usai dan permainan pun akan kembali diulang dengan pemain yang berbeda.


Gambar 2. Permainan meong-meongan

Dengan dimainkan di lapangan yang luas dan jumlah pemain yang banyak, permainan meong-meongan sangatlah menarik untuk dimainkan. Bahkan hanya menjadi penonton saja, kita bisa merasakan keseruannnya, saat bikul dan meng berkejar-kejaran, sementara pemain yang membentuk lingkaran sibuk berputar menghalangi meng. Teriakan para pemain dan gelak tawa mereka menjadi penyejuk kala sore hari.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://ngkwirun.blogspot.com/2013/08/permainan-rakyat.html
2. http://nuansabaliku.blogspot.com/2012/07/meong-meongan.html

Wednesday, January 21, 2015

Ular Naga, Permainan Dalam Dialog dan Nyanyian

Ular naga adalah permainan tradisional yang sangat menyenangkan. Bagaimana tidak, sebuah permainan akan sangat terasa mengasyikkan jika dimainkan dengan saling bernyanyi dan tertawa. Begitu pula dengan permainan unik ini. Apalagi instrumen permainan ini sangatlah mudah, hanya dengan mengumpulkan beberapa anak-anak untuk dijadikan sebagai ular naga nya.

Permainan ini juga sangat simpel, sebelum bermain anak-anak mencari lapangan atau halaman rumah yang sedikit luas untuk tempat arena naga dan anggotanya. Pada umumnya permainan ini tidak dilakukan oleh orang yang remaja dan dewasa, anak-anak adalah pemain utama dalam ular naga. Permainan ini berasal dari 6-11 orang yang mana anak-anak akan berbaris sambil berpegangan baju bagian belakang milik teman yang di depannya seperti layaknya membuntut.

Dalam permainan ini anak yang paling besar atau yang paling tinggi menjadi “induk” atau gerbang, berdiri saling berhadapan sambil menyatukan kedua tangan setinggi mungkin, mereka sebagai pintu masuknya naga yang diperankan oleh induk naga beserta anggotanya.



Karena sistem permainan yang mengundang kelucuan dan kegembiraan maka sangat indah dan menarik sekali bila dilakukan saat bulan purnama. Memang tidak ada hubungan secara langsung antara bulan purnama dengan permainan ini.

Namun, ular naga adalah permainan yang enak jika dipertontonkan, dan alangkah lebih baiknya jika dimainkan di halaman yang luas dan di bawah sinar rembulan, maka setiap pemain dan penonton akan merasa lucu dan antusias saat mereka memainkan ular naga, nantinya akan nampak siapa yang kalah dan siapa yang menjadi pemenang di antara para pemainnya.

Perbedaan ular naga dibanding dengan yang lain adalah permainan ini mempunyai sebuah lagu, jadi sebelum memasuki arena tuan rumah maka naga harus bernyanyi dulu serentak beramai-ramai, adapun bunyi lagunya adalah :

“Ular Naga Panjangnya bukan kepalang, Menjalar-jalar selalu kian kemari, Umpan yang lezat itulah yang dicari, Ini dianya yang terbelakang.”

Dalam permainan ini dibutuhkan satu pemain yang tangkas dalam berkomunikasi, karena ada daya tarik tersendiri yang dilahirkan dari permainan ini, yaitu adanya dialog dalam permainan. Inilah yang membedakan permainan ular naga ini dengan permainan tradisional lainnya. Sangat jarang kita menemukan permainan tradisional diiringi dialog yang menjadi salah satu alat utama dalam permainan inti.

Teknik permainan Ular Naga.
  • Pada mulanya anak-anak yang berperan sebagai ular naga berbaris dengan rapi sampai ke belakang, yang tangkas dalam berbicara berada di paling depan karena dia nantinya yang akan menuntun permainan atau sebagai juru bicaranya.
  • Kemudian mengitari induk atau bisa disebut juga dengan gerbang masuk naga sambil menyanyikan lagu yang telah tertera di atas.
  • Pada saat lagu tengah selesai dinyanyikan, maka masuklah naga ke dalam gerbang. Dan anak yang paling terbelakang akan ditangkap oleh gerbang.
  • Lalu setelah itu barulah induk angkat bicara, mulailah si induk bernegosiasi dengan gerbang saling bantah membantah perihal anaknya yang telah tertangkap.
  • Dan pada akhirnya sang anak atau barisan paling belakang memang harus ditangkap begitu seterusnya, lalu anak yang telah disandera disuruh memilih ditempatkan di belakang salah satu orang yang menjadi gerbang.
  • Penyanderaan anggota akan terus terjadi sampai sang induk kehabisan anggota. Dan kemudian permainan akan diulangi membentuk ular naga baru.

Ada banyak manfaat yang bisa diambil dari permainan tradisional ular naga ini. Salah satunya anak akan terlatih emosional dan kecakapannya dalam berkomunikasi, selain itu permainan ini juga mendidik anak tentang arti kebersamaan dan menghargai orang lain, tanpa menghiraukan adanya kemenangan atau kekalahan yang diperoleh pada saat bermain.

Oleh : Ade Sundari
Sumber-Referensi:
1. http://id.wikibooks.org/wiki/Permainan/Berkelompok/Ular_Naga,
2. http://ensiklomini.blogspot.com/2013/09/permainan-ular-naga-permainan-baris.html
Sumber-Gambar:
1. http://sistempemerintahan-indonesia.blogspot.com/2014/06/permainan-tradisional-anak-indonesia.html