Showing posts with label petak umpet. Show all posts
Showing posts with label petak umpet. Show all posts

Thursday, March 5, 2015

Manfaat Permainan Tradisional Sebagai Media Pembelajaran - 1

Permainan tradisional memang sedang naik daun. Setelah sekian lama tergeser oleh maraknya gadget-gadget yang menyajikan permainan modern, kini popularitas dan geliat pemainnya semakin meriah. Dipelopori oleh komunitas Hong, yaitu sebuah komunitas pecinta permainan tradisional di Bandung yang menyediakan sarana dan prasarana bagi masyarakat yang ingin bermain dengan permainan tradisional khususnya permainan yang berasal dari Sunda. Sejak berdiri tahun 2005, komunitas ini sukses menumbuhkan kembali minat masyarakat Indonesia terhadap permainan tradisional yang sempat ditinggalkan, bahkan hingga ke mancanegara.

Selain menyenangkan, ternyata permainan tradisional memiliki manfaat pembelajaran terutama bagi anak-anak yang memainkannya. Oleh sebab itu, kini banyak wacana yang mengemukakan pentingnya permainan tradisional sebagai media pembelajaran. Lantas, apa yang dimaksud dengan media pembelajaran? Menurut Moh. Arif, M.pd, media pembelajaran adalah alat bantu yang bisa digunakan sebagai penyalur pesan agar pesan yang ingin disampaikan dapat tersampaikan dengan lebih baik sehingga tercapainya tujuan pembelajaran. Sedang dalam praktiknya permainan tradisional tidak dipandang sebagai media yang mampu memberikan nilai-nilai edukasi kepada anak-anak yang memainkannya, padahal permainan tersebut mengandung nilai-nilai pembelajaran turun-temurun yang diwariskan oleh nenek moyang bangsa kita.

Pada prinsipnya permainan adalah sesuatu yang menyenangkan atau menggembirakan untuk dimainkan. Pada permainan tradisional, pemainnya tidak sekedar mendapat kesenangan saat memainkannya, tetapi juga berbagai macam fungsi dibalik permainan tersebut, dalam hal ini adalah fungsi pembelajaran. Hal ini tidak lain karena permainan tradisional merupakan bentuk simbolisasi dari berbagai pengetahuan generasi pendahulu kita yang mencakup berbagai pesan moral dan edukasi di dalamnya.

Berikut ini adalah beberapa contoh permainan tradisional yang dapat dijadikan media pembelajaran berikut nilai edukasi yang terkandung di dalamnya.

1. Petak Umpet


1. Petak Umpet

Permainan ini sangat populer, hampir semua orang pernah memainkannya. Permainan ini merupakan permainan berkelompok, di mana sebelum memulai, para pemain harus terlebih dahulu menentukan satu orang penjaga gawang atau poin tempat para pemain harus memulai dan mengakhiri permainan.

Permainan dimulai saat penjaga tersebut menutup matanya dan menghitung 1 hingga 10 atau sesuai dengan kesepakatan, sehingga memberi kesempatan bagi pemain lain untuk bersembunyi. Setelah hitungan selesai, si penjaga harus menemukan teman-temannya yang bersembunyi tersebut. Anak yang ditemukan pertama kali oleh si penjaga, akan menggantikan posisinya sebagai penjaga gawang. Namun adakalanya penjaga ditentukan dengan hompimpa atau suit, yaitu mengundi dengan menggunakan tangan.

Manfaat yang didapat dari permainan ini sangat beragam. Anak-anak akan aktif bergerak sekaligus berpikir. Adakalanya anak-anak diharuskan untuk berpikir mencari tempat yang aman untuk bersembunyi, adakalanya pula berpikir tempat seperti apa yang digunakan teman-temannya untuk bersembunyi. Hal ini dapat memupuk rasa ingin tahu dan pantang menyerah. Serta mengambil keputusan apakah harus bersembunyi secara berkelompok, ataukah sendiri.

Pada saat dewasa, pengalaman ini berguna dalam melatih insting, mengatur strategi, dan kestabilan emosi dalam bersosialisasi serta menghadapi dunia kerja.

Bersambung ke Bagian 2

Oleh : Tika Dwi
Sumber tulisan:
http://moharifstainta.blogspot.com/2013/10/permainan-tradisional-sebagai-media.html
http://antoksoesanto.blogspot.com/2014/08/pengertian-dan-macam-permainan-tradisional.html

Gambar:
1. http://zonexpose.blogspot.com/2014/06/tempat-sembunyi-petak-umpet.html

Permainan Tradisional Jawa – Jawa Timur

Permainan tradisional adalah permainan yang diturunkan dari suatu generasi ke generasi berikutnya, permainan tradisional juga memiliki banyak manfaat bagi fisik, perkembangan sosial, emosi, untuk mengasah ketrampilan dan lain-lain. Karena berbagai manfaat itulah maka sebenarnya permainan tradisional sangat baik untuk diajarkan dan dimainkan oleh anak. Permainan tradisional tentu akan melatih anak untuk bersosialisasi, berbeda dengan permainan-permainan jaman sekarang yang membuat anak cenderung bersifat individualis.

Kali ini permainan tradisional jawa yang akan kita bahas adalah permainan dari Jawa Timur, sebagian diantaranya:

  1. Patil Lele

    Permainan Patil Lele membutuhkan konsentrasi dan ketahanan fisik yang baik, terutama kekuatan pada tangan. Permainan ini kebanyakan dimainkan oleh anak laki-laki, bisa dimainkan di halaman rumah atau tanah lapang. Permainan ini merupakan permainan kelompok walau bisa juga bila hanya dua orang, tapi akan lebih seru bila berkelompok.

    Cara Bermain:

    • Pertama harus menyiapkan alat untuk bermainnya dulu yaitu dua potong kayu, yang satu berukuran 40 cm(induk) dan yang satu 6/7cm (anak), yang kemudian induk akan digunakan untuk memukul anak. Kemudian siapkan juga sebuah lubang di tanah berukuran kurang lebih 10cm, yang akan menjadi tempat tolakan potongan kayu.
    • Bila pemain sudah dibagi dalam 2 kelompok, seperti biasa tentukan siapa yang kalah dan menang. Yang kalah bertugas jaga dan yang menang bermain.
    • Tahap pertama, permainan dimulai saat potongan kayu “anak” diletakkan di atas lubang, yang kemudian dicukil dari bawah dengan induk sejauh mungkin oleh salah satu anggota kelompok yang menang. Setelah “anak” dicukil “induk” harus diletakkan di lubang tadi dalam posisi melintang. Semua pemain yang jaga berusaha untuk menangkap “anak”, bila berhasil maka pemain yang tadi mencukil dianggap gagal. Bila tidak ada yang berhasil menangkap maka pemain jaga harus melempar “anak” ke arah lubang dan harus mengenai “induk”, bila mengenai “induk” maka pemain yang tadi mencukil dianggap gagal dan berganti jaga, tapi bila tidak mengenai maka dapat melanjutkan ke tahap berikutnya.
    • Tahap kedua, “anak” diletakkan dengan posisi menancap dalam posisi miring di atas lubang, kemudian ujung “anak” yang ada di luar lubang dipukul dengan “induk” hingga meloncat ke atas. Saat itulah pemain yang tadi mencukilnya harus memukul sejauh-jauhnya dengan “induk”, bila tidak bisa memukul maka dianggap gagal. Dan seperti tahap satu tadi pemain jaga harus bersiap untuk menangkap “anak”, aturannya pun masih sama.
    • Setiap pemain jaga berhasil menangkap atau saat melempar anak dan mengenai “induk” akan ada poin yang nilainya telah disepakati bersama sebelum permainan.
  2. Petak umpet

    Petak umpet bisa dilakukan di halaman dan di lapangan, bisa dilakukan anak laki-laki sekaligus perempuan.

    Cara Bermain:

    Untuk cara bermain petak umpet sepertinya di daerah manapun peraturannya sama, yaitu pemain minimal ada 3 orang tapi lebih seru bila dilakukan ramai-ramai. Pertama pemain menentukan 1 pemain yang kalah, kemudian pemain yang kalah menutup matanya sambil menghitung 1-20 misalnya dan saat itu pemain yang lain harus sembunyi, setelah selesai menghitung pemain yang kalah harus mencari temannya sambil menyebut namanya. Bila semua pemain sudah ditemukan maka pemain yang pertama kali ditangkap, giliran menjadi pemain yang harus menghitung dan mencari teman lain. Tetapi bila ada salah satu pemain yang berhasil memegang pohon/tiang yang disepakati sebagai tempat kembali tanpa diketahui oleh pemain kalah maka pemain yang kalah harus rela untuk menghitung lagi, dan begitu seterusnya.

Permainan tradisional Jawa Timur yang lain masih banyak, seperti keladi, lompat tali dan lain-lain.

Permainan tradisional dari suatu daerah sebenarnya banyak memiliki kemiripan dengan permainan tradisional dari daerah lain, bisa hanya berbeda namanya karena memang perbedaan bahasa dan mungkin tahapannya juga agak sedikit berbeda. Misalnya permainan Patil Lele yang mirip dengan permainan Benthik, Congkak mirip bahkan sama dengan Dakon, dan lain sebagainya.

Namun kebanyakan permainan tradisional dari daerah manapun selalu mengajarkan kebersamaan, kesederhanaan, cekatan, ketrampilan, dan lain-lain. Banyak nilai positif yang dapat diambil dari tiap permainan tradisional.

Oleh: Novita Prahastiwi
Referensi: http://lbbkapurputih.wordpress.com/2012/06/06/permainan-tradisional-jawa-timur/

Thursday, January 22, 2015

Keseruan Aksi Bikul dan Meng dalam Permainan Meong-Meongan

Perkembangan teknologi di era globalisasi ini membuat banyak anak-anak lebih sering menghabiskan masa kecilnya dengan bermain permainan digital. Sudah jarang sekali terlihat anak-anak yang bermain permainan tradisional, seperti misalnya petak umpet, egrang, benteng, lompat tali, dan ular naga. Padahal permainan-permainan tradisional itu sangat murah dan mudah dimainkan, dibandingkan dengan bermain gadget. Selain itu, nilai positifnya juga lebih banyak, di mana anak-anak belajar untuk bekerja sama saat bermain meong-meongan misalnya. Keakraban juga lebih terjalin saat bermain bersama. Anak-anak zaman dulu jarang sekali tidak mengenal teman-temannya yang letak rumahnya berdekatan.

Ada satu permainan yang sangat populer, karena harus dimainkan bersama dan selalu menimbulkan teriakan dan gelak tawa dalam pelaksanaannya, yaitu meong-meongan. Bagi anak-anak yang menjalani masa kecil sebelum era teknologi, permainan meong-meongan bukanlah hal yang asing. Permainan tradisional ini berasal dari Bali dan juga dimainkan di beberapa daerah di Pulau Jawa, namun dengan nama yang berbeda. Di Pulau Jawa, permainan meong-meongan dikenal dengan nama kucing-kucingan. Walau namanya berbeda, namun cara bermain dan prinsipnya tetap sama. Di samping sebagai hiburan, permainan juga ditujukan sebagai olahraga karena membutuhkan gerakan-gerakan jasmani.


Gambar 1. Permainan meong-meong

Tidak ada yang tahu dengan pasti siapa yang menciptakan permainan meong-meongan dan kapan terciptanya. Yang jelas, permainan ini telah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Permainan Meong-meongan umumnya dimainkan oleh anak-anak Bali dengan diiringi lagu meong-meong. Biasanya permainan ini diikuti oleh 8 orang bahkan lebih, di mana 1 orang pemain berperan sebagai bikul (tikus), 1 orang berperan sebagai meng (kucing) dan pemain lainnya berkewajiban melindungi bikul dari serangan meng dengan membentuk lingkaran. Si bikul berada di dalam lingkaran tersebut, sedangkan si meng berada di luar lingkaran dan akan berusaha masuk untuk menangkap bikul. Sambil menyanyikan lagu meong-meong, para pemain yang membentuk lingkaran berusaha menghalangi meng agar tidak sampai masuk ke dalam lingkaran. Lirik lagu meong-meong sangat singkat dan mudah diingat, yaitu meong-meong, alih je bikule. Bikul gede-gede, buin mokoh-mokoh. Kereng pesan ngerusuhin. Juk Meng! Juk Kul! Juk Meng! Juk Kul. Lagu Meong-meong ini dinyanyikan para pemain sambil berputar dan ketika sampai pada lirik “Juk Meng! Juk Kul! Juk Meng! Juk Kul”, Meng pun mulai mengejar Bikul. Lirik ini akan selesai dinyanyikan bila Meng berhasil menangkap Bikul. Setelah Bikul tertangkap, nyanyian usai dan permainan pun akan kembali diulang dengan pemain yang berbeda.


Gambar 2. Permainan meong-meongan

Dengan dimainkan di lapangan yang luas dan jumlah pemain yang banyak, permainan meong-meongan sangatlah menarik untuk dimainkan. Bahkan hanya menjadi penonton saja, kita bisa merasakan keseruannnya, saat bikul dan meng berkejar-kejaran, sementara pemain yang membentuk lingkaran sibuk berputar menghalangi meng. Teriakan para pemain dan gelak tawa mereka menjadi penyejuk kala sore hari.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://ngkwirun.blogspot.com/2013/08/permainan-rakyat.html
2. http://nuansabaliku.blogspot.com/2012/07/meong-meongan.html

Friday, January 16, 2015

Asiknya Bermain Petak Umpet

Bagi masyarakat Indonesia, permainan tradisional petak umpet sudah tidak asing lagi. Permainan ini mempunyai keasikan tersendiri dalam memainkannya. Anak-anak tingkat Taman Kanak-Kanak atau murid-murid di tingkat Sekolah Dasar banyak yang menyukai permainan ini. Dalam memainkannya tidak diperlukan alat-alat, maka tidak heran jika permainan ini dikatakan sebagian orang sebagai permainan yang murah meriah. Tidak seperti PlayStation atau produk-produk permainan impor yang harganya relative tinggi dan dapat menguras saku para orang tua.

Permainan ini dimainkan oleh dua orang atau lebih, satu diantaranya bertugas sebagai penjaga atau orang yang mencari, sedangkan sisanya yang lain bersembunyi di sekitarnya. Permainan ini diperlukan strategi siasat dalam mencari tempat persembunyian yang aman supaya penjaga atau orang yang bertugas mencari tidak menemukan persembunyiannya.

Pada permulaan permainan, penjaga menghitung angka yang telah ditentukan, biasanya berhitung sampai angka 25, dengan mata tertutup menghadap ke dinding, sementara para pemain sibuk mencari tempat persembunyian. Setelah hitungan mencapai angka 25, maka barulah penjaga mencari target pencarian. Penjaga dilarang untuk berbuat curang, yaitu dengan mengintip di sela-sela hitungannya, ia harus jujur sehingga ketidaktahuannya itu akan menjadi hal yang menarik dalam permainan ini. Para pemain lain pun hendaknya jangan mencari tempat persembunyian terlalu jauh di luar area permainan atau di tempat-tempat berbahaya, seperti tempat-tempat yang memungkinkan adanya binatang berbisa seperti ular ,atau tempat-tempat ketinggian yang berbahaya.

Tempat persembunyian dapat dilakukan di mana saja, asalkan tidak sangat jauh dan keluar area permainan. Bisa bersembunyi, dibalik dinding, di bawah meja, di balik pagar atau sekat, dibalik pohon, atau dimana saja yang dianggap aman untuk tidak diketahui penjaga. Sedangkan sang penjaga berdiri menjaga dinding dan sesekali kesana kemari mencari teman-teman lainnya yang tengah bersembunyi.

Permainan berakhir jika penjaga sudah menemukan semua para pemain yang bersembunyi, namun jika penjaga gagal menemukan persembunyian maka penjaga tetap bertugas untuk menjaga. Penjaga akan merasa gembira jika sudah menemukan peserta lainnya, semakin cepat dia menemukan akan lebih baik, karena nantinya ia akan bergantian posisi menjadi peserta yang bersembunyi, dan hal itu tidak melelahkan fisiknya. Yang tadinya harus kesana kemari mencari teman-teman lainnya, selanjutnya hanya berdiam diri bersembunyi banyak beristirahat dan tidak banyak mengeluarkan suara agar persembunyiannya tidak diketahui penjaga.



Permainan ini lumayan menegangkan jika dilakukan, perasaan was-was para pemain yang bersembunyi sangat kuat, karena tidak ingin persembunyiannya diketahui. Permainan petak umpet ini dapat dilakukan berjam-jam, karena tidak membosankan, juga melatih daya pikir dan kelincahan. Bagi masyarakat sunda atau jawa, permainan ini banyak dimainkan pada waktu sore hari atau ketika malam hari, Nampak anak-anak yang masih polos situ dengan ceria berpakaian mengaji dengan kain sarung yang dililit ataupun mengenakan peci, ketika bulan memancarkan keindahannya ditambah suasana sejuk alami dan keceriaan, sebelum atau sesudahnya aktifitas mengaji di masjid. Menjadikan anak-anak lebih giat lagi pergi ke masjid.

Oleh : Dodi Budiana
Sumber: Keterangan Ibu Nuraini. Pengajar TK Khadijah Banjar Sari, Jawa Barat
Sumber foto : Foto Pribadi Rasel Rosita Dewi, Kota Banjar Sari, Jawa Barat