Showing posts with label arena. Show all posts
Showing posts with label arena. Show all posts

Wednesday, January 21, 2015

Ular Naga, Permainan Dalam Dialog dan Nyanyian

Ular naga adalah permainan tradisional yang sangat menyenangkan. Bagaimana tidak, sebuah permainan akan sangat terasa mengasyikkan jika dimainkan dengan saling bernyanyi dan tertawa. Begitu pula dengan permainan unik ini. Apalagi instrumen permainan ini sangatlah mudah, hanya dengan mengumpulkan beberapa anak-anak untuk dijadikan sebagai ular naga nya.

Permainan ini juga sangat simpel, sebelum bermain anak-anak mencari lapangan atau halaman rumah yang sedikit luas untuk tempat arena naga dan anggotanya. Pada umumnya permainan ini tidak dilakukan oleh orang yang remaja dan dewasa, anak-anak adalah pemain utama dalam ular naga. Permainan ini berasal dari 6-11 orang yang mana anak-anak akan berbaris sambil berpegangan baju bagian belakang milik teman yang di depannya seperti layaknya membuntut.

Dalam permainan ini anak yang paling besar atau yang paling tinggi menjadi “induk” atau gerbang, berdiri saling berhadapan sambil menyatukan kedua tangan setinggi mungkin, mereka sebagai pintu masuknya naga yang diperankan oleh induk naga beserta anggotanya.



Karena sistem permainan yang mengundang kelucuan dan kegembiraan maka sangat indah dan menarik sekali bila dilakukan saat bulan purnama. Memang tidak ada hubungan secara langsung antara bulan purnama dengan permainan ini.

Namun, ular naga adalah permainan yang enak jika dipertontonkan, dan alangkah lebih baiknya jika dimainkan di halaman yang luas dan di bawah sinar rembulan, maka setiap pemain dan penonton akan merasa lucu dan antusias saat mereka memainkan ular naga, nantinya akan nampak siapa yang kalah dan siapa yang menjadi pemenang di antara para pemainnya.

Perbedaan ular naga dibanding dengan yang lain adalah permainan ini mempunyai sebuah lagu, jadi sebelum memasuki arena tuan rumah maka naga harus bernyanyi dulu serentak beramai-ramai, adapun bunyi lagunya adalah :

“Ular Naga Panjangnya bukan kepalang, Menjalar-jalar selalu kian kemari, Umpan yang lezat itulah yang dicari, Ini dianya yang terbelakang.”

Dalam permainan ini dibutuhkan satu pemain yang tangkas dalam berkomunikasi, karena ada daya tarik tersendiri yang dilahirkan dari permainan ini, yaitu adanya dialog dalam permainan. Inilah yang membedakan permainan ular naga ini dengan permainan tradisional lainnya. Sangat jarang kita menemukan permainan tradisional diiringi dialog yang menjadi salah satu alat utama dalam permainan inti.

Teknik permainan Ular Naga.
  • Pada mulanya anak-anak yang berperan sebagai ular naga berbaris dengan rapi sampai ke belakang, yang tangkas dalam berbicara berada di paling depan karena dia nantinya yang akan menuntun permainan atau sebagai juru bicaranya.
  • Kemudian mengitari induk atau bisa disebut juga dengan gerbang masuk naga sambil menyanyikan lagu yang telah tertera di atas.
  • Pada saat lagu tengah selesai dinyanyikan, maka masuklah naga ke dalam gerbang. Dan anak yang paling terbelakang akan ditangkap oleh gerbang.
  • Lalu setelah itu barulah induk angkat bicara, mulailah si induk bernegosiasi dengan gerbang saling bantah membantah perihal anaknya yang telah tertangkap.
  • Dan pada akhirnya sang anak atau barisan paling belakang memang harus ditangkap begitu seterusnya, lalu anak yang telah disandera disuruh memilih ditempatkan di belakang salah satu orang yang menjadi gerbang.
  • Penyanderaan anggota akan terus terjadi sampai sang induk kehabisan anggota. Dan kemudian permainan akan diulangi membentuk ular naga baru.

Ada banyak manfaat yang bisa diambil dari permainan tradisional ular naga ini. Salah satunya anak akan terlatih emosional dan kecakapannya dalam berkomunikasi, selain itu permainan ini juga mendidik anak tentang arti kebersamaan dan menghargai orang lain, tanpa menghiraukan adanya kemenangan atau kekalahan yang diperoleh pada saat bermain.

Oleh : Ade Sundari
Sumber-Referensi:
1. http://id.wikibooks.org/wiki/Permainan/Berkelompok/Ular_Naga,
2. http://ensiklomini.blogspot.com/2013/09/permainan-ular-naga-permainan-baris.html
Sumber-Gambar:
1. http://sistempemerintahan-indonesia.blogspot.com/2014/06/permainan-tradisional-anak-indonesia.html

Tuesday, January 20, 2015

Berlatih Kecepatan dengan Galah Asin

Ada dua kelompok anak sedang berkumpul di lapangan. Kira-kira apa yang akan mereka lakukan? Main bulu tangkis? Voli? Atau tenis? Ternyata bukan ketiganya. Mereka akan bermain galah asin.

Galah asin adalah salah satu permainan tradisional dari Indonesia. Permainan galah asin bisa dimainkan oleh laki-laki maupun perempuan tanpa ada batasan umur. Permainan ini mempunyai nama berbeda di berbagai daerah di Indonesia. Di Jawa Barat dan Jakarta permainan ini bernama ‘galah asin’ atau ‘galasin’. Di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah permainan ini disebut ‘gobag sodor”. Sementara di Riau permainan ini dikenal dengan nama ‘cak bur’ atau ‘main belon’.

Kata ‘galah’ dan ‘sodor’ berarti sebuah tombak atau tongkat panjang. Sementara kata ‘gobag’ berarti bergerak dengan bebas. Begitu pun kata ‘asin’ menunjukkan daerah bebas.

Lalu apa yang dapat dilakukan dengan tongkat dan daerah bebas?


Gambar 1. Galah asin

Pemain menggunakan tongkat atau benda lain untuk membuat garis arena permainan. Arena ini tidak mempunyai batasan ukuran tertentu. Syarat utamanya pemain dapat bergerak leluasa di arena permainan yang terdiri dari 6 petak. Bisa juga arena hanya terdiri dari 4 petak jika jumlah pemainnya sedikit. Petak-petak inilah yang menjadi daerah bebas.

Setelah arena permainan selesai dibuat, saatnya untuk membentuk kelompok. Permainan galah asin terdiri dari 2 kelompok, yaitu kelompok penyerang dan kelompok penjaga. Masing-masing kelompok bisa terdiri dari 3 sampai 5 orang. Kemudian pemain harus menentukan kelompok mana yang bertugas sebagai penjaga dan kelompok mana yang menjadi kelompok penyerang.

Kelompok yang bertugas untuk menjaga akan berdiri di sepanjang garis petak baik secara vertikal maupun horizontal. Sementara kelompok penyerang harus berusaha melintasi petak-petak dan bergerak cepat untuk menghindari penjaga. Pemain akan mulai permainan dari sisi luar arena permainan kita sebut saja sebagai titik ‘mulai’. Lalu melintasi petak sampai di sisi luar arena yang lain atau titik ‘balik’. Kemudian kembali melintasi petak menuju titik ‘mulai’. Seperti yang terlihat pada ilustrasi permainan galah asing di samping. Jika salah satu pemain penyerang tertangkap, maka kelompok penyerang kalah.

Peraturannya tidak hanya itu. Ada beberapa peraturan lain yang harus diperhatikan oleh kelompok penjaga maupun kelompok penyerang. Kelompok penjaga harus tetap berada di garis ketika akan menangkap tim penyerang. Sementara kelompok penjaga tidak boleh keluar arena permainan kecuali ketika berada di titik ‘mulai’ dan dan titik ‘balik’. Selain itu, setiap petak hanya boleh diisi oleh satu penyerang. Jika satu petak berisi dari 2 orang pemain penyerang, maka kelompok serang dinyatakan kalah. Saat kelompok penyerang kalah, maka terjadi perubahan posisi. Kelompok penyerang akan menjadi kelompok penjaga, sementara kelompok penjaga akan menjadi kelompok penyerang. Suatu kelompok bisa dikatakan menang ketika seluruh pemain dalam kelompok itu berhasil melewati penjaga dan kembali ke titik mulai.

Permainan bisa diulang berkali-kali sesuai kesepakatan pemain. Saat kita bermain galah asin kita bisa berlatih meloloskan diri dengan cepat. Tidak hanya itu, permainan galah asin juga melatih kelincahan, komunikasi antar pemain, kepemimpinan, dan mengatur strategi. Setiap pemain harus bisa saling bekerjasama baik untuk meloloskan diri maupun untuk menangkap pemain lawan. Bagaimana? Bermain galah asin sangat menyenangkan dan menyehatkan, bukan?

Oleh : Listya Dara Sunda Prabawa
Sumber:
http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/626/Galah-Asin-Permainan/
http://id.voi.co.id/voi-pesona-indonesia/5787-gobak-sodor-permainan-tradisional-indonesia/

Gambar:
Ilustrasi Permainan Galah Asin, dibuat oleh: Listya Dara

Saturday, January 17, 2015

Engklek, Permainan Tradisional Yang Bukan Sekedar Melompat.

Permainan engklek memiliki nama lain yaitu Sunda manda. Engklek adalah salah satu permainan tradisional yang terkenal di Indonesia, khususnya bagi masyarakat pedesaan. Engklek dapat kita jumpai di berbagai wilayah di Indonesia, seperti di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Engklek memiliki nama yang berbeda-beda di setiap daerah. Khusus di Jawa permainan ini disebut Engklek, dan pada umumnya permainan ini banyak dimainkan oleh kaum perempuan. Di beberapa tempat disebut pula dengan nama permainan taplak, terbagi atas taplak meja dan taplak gunung. Ada dugaan bahwa permainan ini berasal dari “Zondag-Mandag” berlatar belakang tentang cerita perebutan sawah yang berasal dari negeri kincir angin yaitu Belanda, versi mereka zondag mandag pun diartikan sebagai Sunday Monday, yang telah menyebar ke Nusantara pada zaman kolonial Belanda.

Namun ada seorang sejarawan yang mendeskripsikan bahwa permainan engklek bukanlah berasal dari Belanda, menurut Dr. Smupuck Hur Gronje, permainan engklek adalah sebuah permainan yang berasal dari Hindustan yang kemudian diperkenalkan di Indonesia. Itulah yang menyebabkan engklek terkenal di kalangan masyarakat Indonesia, meskipun setiap provinsi nya memberikan nama yang berbeda-beda.


Gambar 1. Taplak gunung

Permainan engklek ini sangat digemari oleh para anak-anak. Pemainnya berjumlah dua sampai lima orang. Permainan ini memberikan nilai edukasi dalam hal membangun “rumah”-nya. Atau bisa diartikan sebagai perjuangan seseorang dalam meraih wilayah kekuasaannya. Wilayah yang diperebutkan diraih bukan dengan cara saling menyerang saat di arena permainan, melainkan ada aturan mainnya sendiri. Dan aturan tersebut merupakan kesepakatan masing-masing pemain untuk mendapatkan tempat berpijak.

Sistem permainannya juga sederhana, pada awalnya para pemain menggambarkan petak-petak engklek atau rumah engklek di atas tanah. Kemudian para pemain diwajibkan memiliki “imat atau gacuk”. Adapun imat atau gacuk itu adalah pecahan genting ataupun keramik yang bentuknya lepes ataupun bisa dari batu tipis yang permukaannya melebar, kenapa harus melebar? Imat atau gacuk yang melebar sangat berguna agar ia tidak mudah lari keluar dari garis petak yang digambarkan saat dilempar, jika imat atau gacuknya bulat maka ia akan sangat mudah menggelinding ke luar garis yang telah ditentukan.


Gambar 2. Taplak meja

Kemudian saat ingin memulai bermain, imat atau gacuk nya dilempar terlebih dahulu ke dalam petak yang telah digambarkan, apabila gacuk yang dilempar melewati garis ketentuan maka pemainnya yang melempar dianggap kalah satu sekali dan harus diganti dengan pemain yang satu lagi, dan apabila gacuk nya tepat berada di dalam petak yang digambarkan maka ketentuan selanjutnya si pemain boleh melanjutkan permainannya, dan petak yang berisi imat atau gacuk tersebut tidak boleh diinjak melainkan harus dilompati satu langkah dan begitu seterusnya. Pemain yang kesempatannya lebih banyak bermain dan tidak salah dalam melemparkan imat atau gacuk nya, itu berarti ia telah memiliki banyak arena yang telah dimenangkan, dan ia layak dijadikan pemenang. Permainan ini sangat seru dan menyenangkan, karena kita dilatih untuk belajar melempar dengan tepat sasaran, jika gacuk atau imat nya melewati garis tidak tepat di kotaknya maka ia tidak akan bisa menjadi pemenang dalam permainan tersebut.

Manfaat Permainan Engklek :
  • Meningkatkan kemampuan fisik setiap pemainnya, melalui lompat melompat yang dilakukan, jadi dapat melancarkan peredaran darah.
  • Melatih keseimbangan badan, karena engklek hanya dimainkan oleh satu kaki
  • Mengasah kemampuan bersosialisasi seseorang dengan orang lain serta memberikan nilai kebersamaan pada saat permainan dilaksanakan.
  • Memiliki kemampuan untuk berusaha menaati peraturan yang telah menjadi kesepakatan antar para pemainnya.
  • Menyongsong kecerdasan logika pada pemainnya, karena dalam permainan ini seseorang juga diajarkan berlatih berhitung dan tahap-tahap yang harus dilewatinya.
  • Menjadi lebih kreatif, karena jenis permainan tradisional pada umumnya dibuat langsung oleh para pemainnya langsung, menggunakan barang-barang yang ada di sekitar lingkungannya, kemudian diolah menjadi suatu permainan yang menyenangkan. Hal ini lah yang membuat mereka menjadi lebih kreatif dalam menghasilkan permainan.

Oleh : Ade Sundari
Sumber Referensi : http://andasites.blogspot.com/2012/07/permainan-tradisional-engklek.html
http://bimoarnikko.blogspot.com/2011/03/permainan-tradisional-engklek.html
Sumber Gambar :
http://www.anakbawangsolo.org/2013/07/pengertian-dan-sejarah-engklek-sunda.html
https://candlelight229.wordpress.com/tag/engklek/