Showing posts with label pemenang. Show all posts
Showing posts with label pemenang. Show all posts

Tuesday, March 3, 2015

Permainan Tradisional Jawa – Jawa Barat - 1

Permainan Tradisional Jawa merupakan warisan budaya leluhur yang saat ini sangat jarang ditemui atau dimainkan oleh anak-anak. Anak-anak jaman sekarang lebih memilih untuk main game online, play station, atau gadget-gadget yang saat ini dapat dijumpai di mana saja. Kita sebagai generasi penerus seharusnya lebih mengenal budaya leluhur dan melestarikannya, termasuk permainan tradisional. Untuk itu kali ini ini saya akan membahas tentang Permainan Tradisional Jawa khususnya Jawa Barat.

1. Congklak atau Dakon

Congklak atau Dakon adalah permainan yang biasanya dimainkan anak perempuan, kadang anak laki-laki juga ikut bermain. Dakon dimainkan oleh 2 orang, dan bisa dimainkan di mana saja misalnya di teras rumah.

  • Peralatannya: alat permainannya disebut dakon, yang terbuat dari kayu, memiliki 14 lubang kecil saling berhadapan yang disebut sawah, dan memiliki 2 lubang agak besar yang disebut dengan lumbung. Bila tidak ada dakon, bisa menggunakan cara lain seperti membuat lubang di tanah atau menggambar lingkaran. Untuk bijinya bisa menggunakan batu, kelereng, biji asam atau biji lainnya yang jumlahnya 7 untuk tiap sawah (98 biji).
  • Cara bermain:

    Tahap 1: Kedua pemain duduk berhadapan, dakon diletakkan di antara keduanya, dan tiap sawah diisi dengan 7 biji batu(lumbung dikosongkan). Lumbung di sisi kanan pemain A adalah milik Si A dan sebaliknya.

    Tahap 2: Kedua pemain pingsut(suit) untuk menentukan siapa yang main terlebih dahulu. Pemenangnya(misal A) mengambil biji dari sawah pertama kemudian meletakkan satu-satu di sawah berikutnya sampai berhenti di lumbungnya, kemudian giliran Si B melakukan hal yang sama.

    Tahap 3: Si A boleh memilih mau mengambil biji dari sawah yang mana saja asal sawah miliknya dan meletakkan satu-satu pada tiap sawah dan lumbung (kecuali lumbung si B). Jika biji habis di sawah yang berisi biji lain, maka A dapat mengambil biji-biji tersebut dan lanjut mengisi. Bila biji habis di lumbung, maka A dapat melanjutkan mengisi dengan memilih sawah di sisi lumbung. Jika biji habis di sawah B yang kosong maka A berhenti bermain, tetapi bila habis di sawah sendiri yang kosong dan di seberangnya yaitu sawah si B berisi maka seluruh isi sawah itu menjadi milik si A.

    Tahap 4: Setelah itu si B dapat gantian bermain, dengan peraturan yang sama. Dan permainan ini berakhir apabila sudah tidak ada biji yang tersisa di sawah. Pemenangnya adalah pemilik lumbung yang bijinya lebih banyak.




2. Sondah atau sundah mandah atau dengklek

Sondah atau sundah mandah atau dengklek adalah permainan yang dapat dimainkan oleh anak laki-laki maupun perempuan. Permainan ini perlu kelincahan karena anak harus menjaga keseimbangan dengan bertumpu pada satu kaki. Permainan ini dapat dilakukan di mana saja, di area yang agak luas. Arenanya dibuat petak-petak dengan digaris misal dengan kapur, tiap petaknya memiliki ukuran yang sama.

  • Cara bermain:

    Tahap 1: Setiap anak akan bermain sesuai nomor urut dan harus meletakkan gacuk(dari pecahan genting/keramik/apa saja) pada petak A dan kemudian tiap anak harus melewati semua petak dari A sampai H di mana posisi petak yang ada gacuk milik kita itu harus dilompati/dilampaui, setelah sampai H harus kembali lagi. Saat di petak B pemain mengambil gacuk yang ada di petak A kemudian keluar area.

    Jika pemain berhasil tanpa kesalahan maka pemain dapat melempar gacuk ke petak B dan seterusnya.

    Pemain dianggap melakukan kesalahan bila melanggar aturan, seperti: menginjak garis petak, keluar dari petak, salah melempar gacuk(masuk ke petak yang tidak seharusnya), dan menginjak gacuk.

    Apabila pemain melakukan kesalahan maka dilanjutkan pemain berikutnya.

    Tahap 2: Pemain yang berhasil melewati semua petak berhak mendapatkan petak(sawah) dengan cara berdiri membelakangi petak, kemudian meletakkan gacuk pada telapak tangan kemudian membalik dengan cepat agar gacuk itu jatuh pada punggung tangan. Dan saat gacuk ada di punggung tangan, gacuk dilempar ke belakang dengan hati-hati agar masuk ke salah satu petak, bila gacuk jatuh di salah satu petak yang belum ada pemiliknya sawah itu berhak menjadi miliknya.

    Pemenang dari permainan ini adalah pemilik sawah terbanyak.



Oleh: Novita Prahastiwi
Referensi:
Prana, Indiyah. 2010. Permainan Tradisonal Jawa. Klaten: Intan Pariwara.
http://www.indonesiadalamtulisan.com/2012/07/permainan-tradisional-jawa.html
http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=1006&lang=

Saturday, January 17, 2015

Engklek, Permainan Tradisional Yang Bukan Sekedar Melompat.

Permainan engklek memiliki nama lain yaitu Sunda manda. Engklek adalah salah satu permainan tradisional yang terkenal di Indonesia, khususnya bagi masyarakat pedesaan. Engklek dapat kita jumpai di berbagai wilayah di Indonesia, seperti di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Engklek memiliki nama yang berbeda-beda di setiap daerah. Khusus di Jawa permainan ini disebut Engklek, dan pada umumnya permainan ini banyak dimainkan oleh kaum perempuan. Di beberapa tempat disebut pula dengan nama permainan taplak, terbagi atas taplak meja dan taplak gunung. Ada dugaan bahwa permainan ini berasal dari “Zondag-Mandag” berlatar belakang tentang cerita perebutan sawah yang berasal dari negeri kincir angin yaitu Belanda, versi mereka zondag mandag pun diartikan sebagai Sunday Monday, yang telah menyebar ke Nusantara pada zaman kolonial Belanda.

Namun ada seorang sejarawan yang mendeskripsikan bahwa permainan engklek bukanlah berasal dari Belanda, menurut Dr. Smupuck Hur Gronje, permainan engklek adalah sebuah permainan yang berasal dari Hindustan yang kemudian diperkenalkan di Indonesia. Itulah yang menyebabkan engklek terkenal di kalangan masyarakat Indonesia, meskipun setiap provinsi nya memberikan nama yang berbeda-beda.


Gambar 1. Taplak gunung

Permainan engklek ini sangat digemari oleh para anak-anak. Pemainnya berjumlah dua sampai lima orang. Permainan ini memberikan nilai edukasi dalam hal membangun “rumah”-nya. Atau bisa diartikan sebagai perjuangan seseorang dalam meraih wilayah kekuasaannya. Wilayah yang diperebutkan diraih bukan dengan cara saling menyerang saat di arena permainan, melainkan ada aturan mainnya sendiri. Dan aturan tersebut merupakan kesepakatan masing-masing pemain untuk mendapatkan tempat berpijak.

Sistem permainannya juga sederhana, pada awalnya para pemain menggambarkan petak-petak engklek atau rumah engklek di atas tanah. Kemudian para pemain diwajibkan memiliki “imat atau gacuk”. Adapun imat atau gacuk itu adalah pecahan genting ataupun keramik yang bentuknya lepes ataupun bisa dari batu tipis yang permukaannya melebar, kenapa harus melebar? Imat atau gacuk yang melebar sangat berguna agar ia tidak mudah lari keluar dari garis petak yang digambarkan saat dilempar, jika imat atau gacuknya bulat maka ia akan sangat mudah menggelinding ke luar garis yang telah ditentukan.


Gambar 2. Taplak meja

Kemudian saat ingin memulai bermain, imat atau gacuk nya dilempar terlebih dahulu ke dalam petak yang telah digambarkan, apabila gacuk yang dilempar melewati garis ketentuan maka pemainnya yang melempar dianggap kalah satu sekali dan harus diganti dengan pemain yang satu lagi, dan apabila gacuk nya tepat berada di dalam petak yang digambarkan maka ketentuan selanjutnya si pemain boleh melanjutkan permainannya, dan petak yang berisi imat atau gacuk tersebut tidak boleh diinjak melainkan harus dilompati satu langkah dan begitu seterusnya. Pemain yang kesempatannya lebih banyak bermain dan tidak salah dalam melemparkan imat atau gacuk nya, itu berarti ia telah memiliki banyak arena yang telah dimenangkan, dan ia layak dijadikan pemenang. Permainan ini sangat seru dan menyenangkan, karena kita dilatih untuk belajar melempar dengan tepat sasaran, jika gacuk atau imat nya melewati garis tidak tepat di kotaknya maka ia tidak akan bisa menjadi pemenang dalam permainan tersebut.

Manfaat Permainan Engklek :
  • Meningkatkan kemampuan fisik setiap pemainnya, melalui lompat melompat yang dilakukan, jadi dapat melancarkan peredaran darah.
  • Melatih keseimbangan badan, karena engklek hanya dimainkan oleh satu kaki
  • Mengasah kemampuan bersosialisasi seseorang dengan orang lain serta memberikan nilai kebersamaan pada saat permainan dilaksanakan.
  • Memiliki kemampuan untuk berusaha menaati peraturan yang telah menjadi kesepakatan antar para pemainnya.
  • Menyongsong kecerdasan logika pada pemainnya, karena dalam permainan ini seseorang juga diajarkan berlatih berhitung dan tahap-tahap yang harus dilewatinya.
  • Menjadi lebih kreatif, karena jenis permainan tradisional pada umumnya dibuat langsung oleh para pemainnya langsung, menggunakan barang-barang yang ada di sekitar lingkungannya, kemudian diolah menjadi suatu permainan yang menyenangkan. Hal ini lah yang membuat mereka menjadi lebih kreatif dalam menghasilkan permainan.

Oleh : Ade Sundari
Sumber Referensi : http://andasites.blogspot.com/2012/07/permainan-tradisional-engklek.html
http://bimoarnikko.blogspot.com/2011/03/permainan-tradisional-engklek.html
Sumber Gambar :
http://www.anakbawangsolo.org/2013/07/pengertian-dan-sejarah-engklek-sunda.html
https://candlelight229.wordpress.com/tag/engklek/