Showing posts with label meter. Show all posts
Showing posts with label meter. Show all posts

Tuesday, January 27, 2015

Pintar Menghitung dengan Permainan Tradisional Patil Lele

Berlatih menghitung tidak hanya bisa dikerjakan di atas kertas. Namun bisa juga diterapkan dalam sebuah permainan. Misalnya permainan tradisional patil lele, atau bila di daerah lain biasanya disebut benthik, cutat, jenthik, gatrik, tak tek atau sawatan. Permainan ini biasanya dimainkan oleh 2 anak atau lebih, ditempat yang luas tanpa ada lalu lalang kendaraan.

Mengapa permainan ini disebut Patil Lele? Karena dalam permainan ini pemain membutuhkan 2 buah tongkat. Tongkat pendek berukuran 10cm yang disebut Patil ( gunanya untuk dipukul ) dan tongkat panjang yang berukuran 40cm ( gunanya sebagai tongkat pemukul ). Sebelum bermain, pemain harus melubangi tanah sepanjang 8cm. Setelah itu menentukan siapa yang akan bermain lebih dahulu dengan hom pim pa atau sut. Bila pemain sudah ditentukan, maka yang lainnya menjadi penjaga.

Ada tiga tahap dalam permainan ini :

Tahap pertama

Pemain meletakkan patil di atas lubang dan bersiap-siap untuk menyukit patil dari bawah dan melesatkannya ke arah depan dengan sekuat tenaga. Bila patil saat melesat berhasil ditangkap oleh penjaga, maka penjaga tersebut mendapatkan poin. Dan pemain dinyatakan gagal. Namun bila pemain berhasil, maka pemain lah yang mendapatkan poin. Poin untuk pemain diukur dari seberapa jauh atau berapa meter patil tersebut jatuh. Poin pemain dan poin penjaga harus sudah ditentukan sebelum permainan dimulai.

Contoh
Budi menyukit patil dan jatuh sejauh 8 meter. Bila 1 meter poinnya 5, maka Budi mendapatkan poin 40. Dari 8 meter x 5 poin = 40 poin.



Tahap ke dua

Pemain melemparkan patil ke arah atas. Pada saat patil masih mengudara, tepat di depan wajah pemain, pemain harus bisa memukul patil tersebut ke arah penjaga. Banyak pemain yang kesulitan pada permainan tahap ini, karena saat memukul membutuhkan waktu yang tepat, kesabaran, dan kejelian, sehingga pemain tidak asal saat mengayunkan tongkat (lele). Pemain yang berhasil menyelesaikan tahap ini, maka mendapat poin dan dapat melanjutkan permainan ke tahap selanjutnya. Nilai poin pada tahap ini jauh lebih besar dari pada poin pada permainan tahap pertama. Misalkan poin pada tahap pertama 5 poin per meter, maka permainan tahap ke dua adalah 10poin per meter. Setelah poin terkumpul pada tahap dua, maka poin permainan tahap pertama dijumlahkan dengan poin tahap ke dua. Dan permainan dilanjutkan ke tahap yang ketiga.

Tahap ke tiga

Pemain meletakkan patil di sudut lubang, sudut lubang sebagai titik tumpu. Kemudian pemain bersiap untuk memukul patil yang ujungnya berada di atas tanah. Bila pukulan berhasil, maka patil akan terlempar ke atas kepala pemain. Dan di saat patil masih mengudara, pemain diharuskan memukul kembali patil tersebut ke arah penjaga. Langkah ini hampir sama dengan langkah pada permainan tahap dua. Pada tahap ini pemain membutuhkan keahlian khusus, karena itu tidak jarang dari pemain yang sering mengalami kegagalan. Karena tingkat kesulitannya yang tinggi, maka poin pada tahap ini adalah poin yang paling besar. Menentukan poinnya juga berdasarkan berapa meter jauhkah patil tersebut jatuh.



Pada permainan patil lele ini, dari awal bermain sampai selesai, saat menjadi penjaga ataupun pemain semuanya menghitung perolehan poin masing-masing. Karena itulah, permainan ini dapat meningkatkan kelancaran dalam menghitung dan juga daya konsentrasi. Pemenang pada permainan ini adalah pemain yang paling banyak mengumpulkan poin. Dan biasanya permainan ditutup dengan acara gendongan, yaitu pemain yang kalah harus menggendong pemain yang menang.

Oleh : Widya Safitri
Sumber gambar
http://wisnujadmika.files.wordpress.com/2013/03/1362824855695.jpg
http://wisnujadmika.files.wordpress.com/2013/03/1362824930440.jpg

Wednesday, January 14, 2015

Egrang, Di Manakah Keberadaanmu Kini?

Egrang berasal dari bahasa Lampung artinya terompah pancung yang terbuat dari bambu panjang. Sebutan untuk permainan egrang bermacam-macam. Ada yang menyebutnya tengkak-tengkak (sebagian wilayah Sumatra Barat), ingkau (Bengkulu), Tilako Mbuku (Sulawesi Tengah), metinggo (Sulawesi Tenggara), jangkungan (Jawa Tengah). Disebut jangkungan karena mirip burung yang berkaki panjang.

Egrang adalah salah satu permainan tradisional yang dilakukan oleh seseorang dengan berjalan menggunakan sepasang bambu. Permainan ini bisa dilakukan baik oleh orang dewasa maupun anak-anak. Pemain egrang akan menaiki bambu yang pada sisi bambu tersebut diberi pijakan kaki. Kunci dalam memainkan egrang yaitu keberanian, rasa percaya diri bahwa kita bisa menggunakannya serta keseimbangan tubuh. Karena pada saat berjalan, bambu itulah yang menopang tubuh kita. Apabila keseimbangan tubuh tidak terjaga dengan baik saat menaiki egrang maka dipastikan kita akan terjatuh. Memang bisa dikatakan permainan tradisional yang satu ini cukup sulit sehingga tidak semua orang dapat memainkannya.

Egrang dulu sangat mudah kita jumpai. Namun kini, permainan ini sangat jarang dimainkan oleh anak-anak. Permainan egrang hanya dapat dijumpai saat kegiatan-kegiatan tertentu seperti peringatan kemerdekaan atau lomba dan saat perayaan setelah Joko Widodo dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia yang ke-7 pada Senin, 20 Oktober 2014 lalu.


Gambar 1. Berjalan dengan egrang

Terdapat beberapa jenis egrang, diantaranya:
  • Egrang pegangan
  • Egrang pasak
  • Egrang drywall
  • Egrang pegas; modifikasi egrang yang dilengkapi dengan pegas seberat 8 kilogram, masing- batang diberi pegas seberat 4 kilogram. Dengan adanya pemberian pegas pada masing-masing bambu menyebabkan loncatan yang tinggi. Egrang pegas bisa dikatakan sebagai egrang masa kini (modern).

Ukuran egrang disesuaikan dengan si pemakai. Umumnya, panjang egrang kurang lebih 175 sentimeter hingga 2,5 meter. Sedangkan sekitar 30-50 sentimeter dari bawah, dibuat tempat pijakan kaki yang rata dengan lebar kurang lebih 20-30 sentimeter. Permainan egrang bisa dilakukan di mana saja dan tidak membutuhkan halaman luas. Asal di atas tanah yang rata. Selain itu, permainan ini juga dapat dilakukan di tepi pantai.

Alat egrang bisa kita buat sendiri. Berikut cara membuat egrang:
  • Potong bambu menjadi dua bagian dengan panjang masing-masing sekitar 175 sentimeter hingga 2,5 meter.
  • Potong bambu yang lain menjadi dua bagian dengan panjang masing-masing sekitar 20-30 sentimeter sebagai pijakan kaki.
  • Selanjutnya, salah satu ruas bambu yang berukuran panjang 175 sentimeter hingga 2,5 meter tadi dilubangi untuk memasukkan bambu yang berukuran pendek (sebagai pijakan kaki).
  • Setelah bambu untuk pijakan kaki terpasang, maka bambu tersebut siap untuk digunakan.

Manfaat permainan egrang yaitu dapat merangsang perkembangan koordinasi mata dengan anggota badan lainnya, meningkatkan kemampuan motorik dan koordinasi tubuh anak, melatih emosional anak. Karena dalam bermain egrang diperlukan kesabaran. Berbeda halnya dengan permainan modern saat ini yang cenderung menggunakan permainan elektronik. Permainan elektronik cenderung mengurangi aktivitas gerak anak-anak.

Oleh : Wahyu Inayah
Referensi:
http://gpswisataindonesia.blogspot.com/2013/11/sejarah-permainan-traditional-egrang.html
http://www.kaskus.co.id/show_post/52b1e69f0d8b46ef458b45fe/475/-

Gambar: dokumentasi pribadi

Thursday, January 8, 2015

Permainan Kasti

Permainan kasti sangat menyenangkan. Kasti dimainkan di lapangan terbuka oleh dua regu/tim. Setiap regu terdiri dari 12 pemain. Satu regu bertugas sebagai pemukul dan regu lain bertindak sebagai penjaga. Masing-masing regu dipimpin oleh seorang kapten. Diawali permainan, kedua kapten melakukan undian untuk menentukan posisi sebagai regu pemukul atau penjaga, regu pemukul menempati ruang bebas dan regu penjaga menyebar di seluruh lapangan dengan menempatkan seorang pelambung di ruang pelambung serta penjaga belakang di ruang penjaga belakang.

Permainan kasti dapat melatih ketangkasan dan kekompakan. Permainan ini cocok bagi kalangan anak-anak dalam usia pertumbuhan. Supaya dapat bermain dengan baik, maka diperlukan penguasaan teknik dasarnya. Permainan kasti memerlukan alat pemukul dan bola. Pemukul berupa tongkat yang terbuat dari kayu. Panjang tongkat pemukul kurang lebih 60 cm.

Bola kasti terbuat dari bahan karet dengan bagian dalamnya diisi sabut kelapa atau bahan sejenisnya. Apabila tidak ada bola kasti dapat menggunakan bola tenis yang sedikit dilubangi. Hal tersebut dimaksudkan agar bola sedikit kempis sehingga bila dipukul tidak melambung terlalu jauh.



Lapangan kasti berbentuk persegi panjang dengan ukuran 30x60meter. Ukuran ini dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan yang ada. Disediakan pula tiang pertolongan dan tiang bebas yang ditancapkan di tengah-tengah lingkaran dengan diameter 1 meter. Jarak tiang pertolongan ke garis samping adalah 5 meter. Tiang bebas ada 2 buah yang terletak masing-masing berjarak 10 meter dari garis samping dan 5 meter dari garis belakang. Tiang-tiang tersebut minimal memiliki tinggi 1,5 meter dari permukaan tanah dan mudah dibedakan dengan tiang pembatas lapangan.

Cara melakukan permainan kasti secara sederhana adalah berikut:
  • Anak-anak dibagi menjadi dua regu dengan jumlah masing-masing regu enam orang.
  • Diadakan undian untuk menentukan regu pemukul dan regu penjaga.
  • Regu pemukul menempati ruang bebas dan regu penjaga menyebar ke seluruh lapangan dengan menempatkan seorang pelambung serta penjaga belakang.
  • Permainan dimulai dengan pemain nomor 1 dari regu pemukul menempatkan diri di ruang pemukul dengan posisi siap melakukan pukulan bola pertama yang dilambungkan oleh pelambung.
  • Cara mematikan lawan dilakukan dengan melemparkan bola ke arah tubuh lawan yang sedang berlari. Bagian tubuh yang boleh dilempar atau dikenai bola adalah seluruh anggota badan, kecuali kepala.
  • Pemukul berhak melakukan satu kali kali pukulan, ketika di ruang bebas tidak ada orang atau kosong, pemukul terakhir berhak melakukan 3 kali pukulan.
  • Pergantian tempat terjadi jika regu pemukul terkena lemparan bola dari regu penjaga. Selain pergantian tempat, ada juga pergantian bebas. Pergantian bebas terjadi karena hal-hal berikut:
    1. Penjaga dapat menangkap bola sebanyak 3 kali berturut-turut.
    2. Pelari masuk ruang bebas melalui garis belakang.
    3. Pemain dari regu pemukul keluar dari garis lapangan.
    4. Saat memukul, tongkat pemukul terlepas dari tangan pemukul.

OLeh : Dodi Budiana
Sumber: Buku pendidikan jasmani, olah raga dan kesehatan, Penerbit Putra Nugraha Surakarta
Sumber foto: Ilustrasi gambar Buku pendidikan jasmani, olah raga dan kesehatan, Penerbit Putra Nugraha Surakarta