Showing posts with label kelompok. Show all posts
Showing posts with label kelompok. Show all posts

Thursday, March 5, 2015

Permainan Tradisional Jawa – Jawa Timur

Permainan tradisional adalah permainan yang diturunkan dari suatu generasi ke generasi berikutnya, permainan tradisional juga memiliki banyak manfaat bagi fisik, perkembangan sosial, emosi, untuk mengasah ketrampilan dan lain-lain. Karena berbagai manfaat itulah maka sebenarnya permainan tradisional sangat baik untuk diajarkan dan dimainkan oleh anak. Permainan tradisional tentu akan melatih anak untuk bersosialisasi, berbeda dengan permainan-permainan jaman sekarang yang membuat anak cenderung bersifat individualis.

Kali ini permainan tradisional jawa yang akan kita bahas adalah permainan dari Jawa Timur, sebagian diantaranya:

  1. Patil Lele

    Permainan Patil Lele membutuhkan konsentrasi dan ketahanan fisik yang baik, terutama kekuatan pada tangan. Permainan ini kebanyakan dimainkan oleh anak laki-laki, bisa dimainkan di halaman rumah atau tanah lapang. Permainan ini merupakan permainan kelompok walau bisa juga bila hanya dua orang, tapi akan lebih seru bila berkelompok.

    Cara Bermain:

    • Pertama harus menyiapkan alat untuk bermainnya dulu yaitu dua potong kayu, yang satu berukuran 40 cm(induk) dan yang satu 6/7cm (anak), yang kemudian induk akan digunakan untuk memukul anak. Kemudian siapkan juga sebuah lubang di tanah berukuran kurang lebih 10cm, yang akan menjadi tempat tolakan potongan kayu.
    • Bila pemain sudah dibagi dalam 2 kelompok, seperti biasa tentukan siapa yang kalah dan menang. Yang kalah bertugas jaga dan yang menang bermain.
    • Tahap pertama, permainan dimulai saat potongan kayu “anak” diletakkan di atas lubang, yang kemudian dicukil dari bawah dengan induk sejauh mungkin oleh salah satu anggota kelompok yang menang. Setelah “anak” dicukil “induk” harus diletakkan di lubang tadi dalam posisi melintang. Semua pemain yang jaga berusaha untuk menangkap “anak”, bila berhasil maka pemain yang tadi mencukil dianggap gagal. Bila tidak ada yang berhasil menangkap maka pemain jaga harus melempar “anak” ke arah lubang dan harus mengenai “induk”, bila mengenai “induk” maka pemain yang tadi mencukil dianggap gagal dan berganti jaga, tapi bila tidak mengenai maka dapat melanjutkan ke tahap berikutnya.
    • Tahap kedua, “anak” diletakkan dengan posisi menancap dalam posisi miring di atas lubang, kemudian ujung “anak” yang ada di luar lubang dipukul dengan “induk” hingga meloncat ke atas. Saat itulah pemain yang tadi mencukilnya harus memukul sejauh-jauhnya dengan “induk”, bila tidak bisa memukul maka dianggap gagal. Dan seperti tahap satu tadi pemain jaga harus bersiap untuk menangkap “anak”, aturannya pun masih sama.
    • Setiap pemain jaga berhasil menangkap atau saat melempar anak dan mengenai “induk” akan ada poin yang nilainya telah disepakati bersama sebelum permainan.
  2. Petak umpet

    Petak umpet bisa dilakukan di halaman dan di lapangan, bisa dilakukan anak laki-laki sekaligus perempuan.

    Cara Bermain:

    Untuk cara bermain petak umpet sepertinya di daerah manapun peraturannya sama, yaitu pemain minimal ada 3 orang tapi lebih seru bila dilakukan ramai-ramai. Pertama pemain menentukan 1 pemain yang kalah, kemudian pemain yang kalah menutup matanya sambil menghitung 1-20 misalnya dan saat itu pemain yang lain harus sembunyi, setelah selesai menghitung pemain yang kalah harus mencari temannya sambil menyebut namanya. Bila semua pemain sudah ditemukan maka pemain yang pertama kali ditangkap, giliran menjadi pemain yang harus menghitung dan mencari teman lain. Tetapi bila ada salah satu pemain yang berhasil memegang pohon/tiang yang disepakati sebagai tempat kembali tanpa diketahui oleh pemain kalah maka pemain yang kalah harus rela untuk menghitung lagi, dan begitu seterusnya.

Permainan tradisional Jawa Timur yang lain masih banyak, seperti keladi, lompat tali dan lain-lain.

Permainan tradisional dari suatu daerah sebenarnya banyak memiliki kemiripan dengan permainan tradisional dari daerah lain, bisa hanya berbeda namanya karena memang perbedaan bahasa dan mungkin tahapannya juga agak sedikit berbeda. Misalnya permainan Patil Lele yang mirip dengan permainan Benthik, Congkak mirip bahkan sama dengan Dakon, dan lain sebagainya.

Namun kebanyakan permainan tradisional dari daerah manapun selalu mengajarkan kebersamaan, kesederhanaan, cekatan, ketrampilan, dan lain-lain. Banyak nilai positif yang dapat diambil dari tiap permainan tradisional.

Oleh: Novita Prahastiwi
Referensi: http://lbbkapurputih.wordpress.com/2012/06/06/permainan-tradisional-jawa-timur/

Sejuta Manfaat Permainan Tradisional Indonesia - 2

Main dan permainan merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan dari dunia anak-anak. Seiring dengan perkembangan zaman, media yang digunakan oleh anak-anak untuk bermain semakin berkembang pula. Hanya dalam kurun waktu kurang dari sepuluh tahun teknologi telah mengubah pola anak-anak dalam bermain.

Semula, gaung atau hasrat untuk kembali memainkan dan mengenal lebih jauh tentang permainan tradisional Indonesia adalah karena alasan kecintaan terhadap warisan budaya bangsa, karena sebagian besar permainan tersebut sudah tidak dimainkan lagi sehingga hampir punah. Namun ternyata selain itu diketahui pula berbagai manfaat yang didapat dari permainan tradisional ini, terutama bagi tumbuh kembang anak. Apa sajakah manfaat permainan tradisional bagi tumbuh kembang anak? Di bawah ini dijabarkan beberapa diantaranya.

3. Benteng

Salah satu permainan berkelompok asli Indonesia yang mulai punah. Permainan ini dimainkan oleh 4 hingga 8 orang anak. Dalam memainkannya dibutuhkan sebuah bola, sebelum bola tenis populer, anak-anak pada masa lalu membuat bola sendiri yang berasal dari dedaunan, plastik, kulit pisang dan karet, dibentuk menjadi bulatan hingga sebesar bola tenis.

Sebelum memulai permainan pemain harus menentukan sebuah tiang atau pilar atau dinding, dapat juga pohon yang disebut benteng. Selanjutnya adalah membagi seluruh peserta yang ada ke dalam dua kelompok. Satu kelompok akan menyerang kelompok lain yang akan berusaha mencapai benteng. Jika berhasil menyentuh benteng tanpa terkena lemparan bola, maka kelompoknya dinyatakan menang. Manfaat dari permainan ini adalah melatih jiwa kepemimpinan dan mematuhi instruksi demi kemenangan kelompok. Kecerdasan emosional juga banyak dilatih dalam permainan ini, hal yang sangat dibutuhkan ketika anak telah terjun langsung dalam masyarakat. Ketangkasan melempar dan menangkap bola serta menghindari serangan juga dibutuhkan. Selain membakar kalori tubuh, permainan ini akan membuat seluruh saraf motorik pada anak bekerja optimal.

4. Gebok

Jika sudah lelah bermain benteng, bola yang digunakan sebelumnya, terutama yang sudah susah-susah dibuat sendiri itu jangan dibuang. Bola yang sama dapat juga digunakan untuk bermain gebok. Permainan yang hampir tidak pernah terdengar lagi ini merupakan permainan kelompok yang juga menggunakan media bola tenis atau bola buatan. Gebok artinya menghajar lawan dengan bola, jadi salah satu tim harus menjadi penggebok tim lain.

Selain bola, permainan gebok juga membutuhkan batu atau lempengan yang bisa disusun ke atas. Kemudian pemain menentukan kelompok yang menjadi penggebok dan yang menjadi penjaga batu dengan cara suit. Tim yang menang akan menggebok susunan batu hingga rubuh, lalu mulai berlari menghindari “gebokan lawan”. Selain menghindari terkena gebokan, tim tersebut diharuskan menyusun batu tersebut kembali seperti semula. Jika berhasil menyusun batu sebelum seluruh anggotanya terkena lemparan bola atau gebok, maka tim tersebut menang, jika tidak maka posisi mereka akan berbalik menjadi penjaga batu.

Manfaat yang didapat dari permainan ini sangatlah banyak. Selain menyehatkan tubuh karena menuntut gerak fisik, seperti berlari, melempar dan menangkap bola. Permainan gebok juga melatih rasa sportivitas anak, kerja sama tim dan ketangkasan membidik dan menyusun lempengan batu secara cepat. Dalam kehidupan setelah dewasa, pengalaman ini akan menuntun mereka menjadi seorang pengambil keputusan yang tepat. Mampu berpikir dan berencana secara taktis di saat-saat genting seakan takut terkena gebok. Sportivitas yang dibangun sejak dini akan menghasilkan pribadi yang tidak takut menerima kekalahan, dan siap apabila menerima kemenangan.

5. Gasing

Permainan ini sangat populer di kalangan anak laki-laki. Permainan ini membutuhkan konsentrasi dan keterampilan. Permainan gasing merupakan permainan memutar sebuah bidak dari kayu dengan benang nilon. Bidak inilah yang disebut dengan gasing. Gasing memiliki bentuk yang berbeda-beda di tiap daerah. Namun cara bermainnya tetap sama, yakni memutar gasing dengan benang nilon. Gasing dapat juga dimainkan beramai-ramai, biasanya masing-masing pemilik gasing akan mengadu gasing siapa yang paling lama berputar, atau bahkan mengadu dengan cara membenturkan dua buah gasing, siapa yang masih berputar setelah berbenturan, maka dialah yang menang.

Manfaat yang didapat dari permainan ini adalah melatih konsentrasi dan kreativitas. Seringkali pemilik gasing menghias gasingnya agar berbeda. Anak-anak juga dapat mempelajari bagaimana sebuah gasing dapat berdiri tegak ketika berputar, juga menghitung tenaga dan panjang nilon yang digunakan untuk menambah atau menurunkan kecepatan putar dan hal-hal menarik lainnya yang berhubungan dengan fisika. Ketika dewasa, kebiasaan berpikir kritis dan fokus akan membantu mereka menggapai cita-cita.

Demikianlah sekelumit dari berjuta manfaat yang dapat diperoleh dari permainan tradisional Indonesia. Meski sempat ditinggalkan karena terkesan kuno dan tidak mendidik, namun segala pendapat tersebut kini terbantahkan seiring dengan pamor permainan tradisional sebagai warisan budaya semakin meningkat. Banyak masyarakat dari berbagai kalangan yang tadinya tidak peduli dengan nasib permainan tradisional, kembali memainkan permainan tradisional tersebut dan memperkenalkan kepada anak-anak mereka. Apalagi setelah semakin banyak informasi yang disebarkan mengenai sejuta manfaat permainan tradisional bagi tumbuh kembang anak terutama kecerdasan berinteraksi dan bersosialisasi, membuat masyarakat semakin bersemangat melestarikan aneka permainan tradisional.

Oleh : Tika Dwi

Wednesday, March 4, 2015

SEJUTA MANFAAT PERMAINAN TRADISIONAL INDONESIA - 1

Main dan permainan merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan dari dunia anak-anak. Seiring dengan perkembangan zaman, media yang digunakan oleh anak-anak untuk bermain semakin berkembang pula. Hanya dalam kurun waktu kurang dari sepuluh tahun teknologi telah mengubah pola anak-anak dalam bermain.

Sebagai contoh, jika berpuluh tahun silam anak-anak asyik bermain membaur dengan alam, kini anak-anak hampir tak pernah bersentuhan dengan alam. Jika dahulu pengertian bermain berarti aktif bergerak hingga mengeluarkan keringat, kini bermain berarti hanya duduk diam dengan gadget tanpa melibatkan banyak saraf motorik. Padahal penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang telah terpapar gadget elektronik sejak usia dini, dapat memicu gangguan kognitif, defisit perhatian, kurang dapat mengendalikan diri hingga mudah depresi yang kemungkinan besar akan terbawa hingga mereka dewasa.

Permainan modern untuk anak-anak memang pada awalnya terlihat menyenangkan dan mendidik, namun ternyata jika membandingkan manfaat yang didapat antara bermain permainan modern yang notabene membutuhkan gadget mahal sebagai media bermainnya dengan permainan tradisional yang hanya membutuhkan kreativitas, permainan tradisional-lah yang mampu menutupi semua kelemahan permainan modern.

Semula, gaung atau hasrat untuk kembali memainkan dan mengenal lebih jauh tentang permainan tradisional Indonesia adalah karena alasan kecintaan terhadap warisan budaya bangsa, karena sebagian besar permainan tersebut sudah tidak dimainkan lagi sehingga hampir punah. Namun ternyata selain itu diketahui pula berbagai manfaat yang didapat dari permainan tradisional ini, terutama bagi tumbuh kembang anak. Apa sajakah manfaat permainan tradisional bagi tumbuh kembang anak? Di bawah ini dijabarkan beberapa diantaranya.

  1. Layang-layang
    Layang-layang adalah sejenis permainan individu yang membutuhkan keterampilan menerbangkan benda yang terbuat dari bambu dan kertas. Tidak hanya di Indonesia, permainan ini juga populer di manca Negara. Banyak Negara mempopulerkan permainan ini dengan mengadakan festival layang-layang di Negara mereka. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa juga gemar memainkan permainan ini. Manfaat yang diperoleh dari permainan ini bagi anak-anak adalah mengerti arah mata angin, melatih kesabaran dan kegigihan dalam menjaga agar layang-layang tersebut tetap terbang ataupun menjaga agar talinya jangan sampai putus. Hal-hal seperti ini akan melatih anak-anak membaca situasi alam dan terbiasa menyelaraskan kehidupan antara kesenangan dan kehendak alam hingga mereka dewasa.

  2. Galasin (Sambar Elang)
    Mungkin tidak semua orang pernah memainkan permainan ini, apalagi anak-anak pada zaman kini. Ketersediaan lahan untuk memainkannya merupakan salah satu alasan mengapa permainan ini perlahan ditinggalkan dan akhirnya terlupakan. Cara memainkan permainan ini sangatlah mudah, namun membutuhkan strategi dan kerja sama tim. Galasin harus dimainkan paling sedikit 6 atau 8 anak yang dibagi atas dua kelompok, semakin banyak pemainnya semakin seru permainan ini. Setiap kelompok ditunjuk satu orang sebagai induk, dan lainnya adalah anak elang.

    Setelah membagi anggota sama banyak, kemudian membuat garis yang panjangnya tergantung dari jumlah peserta. Contohnya, jika dalam satu kelompok terdiri dari 8 orang, maka garis yang buat sekitar 3 atau 4 meter, sebanyak 4 buah. Masing-masing garis harus dijaga oleh dua orang anak, sedangkan kelompok lain harus menyeberangi keempat garis tersebut secara bergantian maupun berpasangan tanpa tertangkap oleh para penjaganya. Jika salah satu anggota tertangkap maka kelompok tersebut dinyatakan kalah dan berganti tugas sebagai penjaga garis.

    Manfaat dari permainan ini sangat banyak. Anak-anak menjadi sehat karena aktif bergerak dan berkeringat. Selain itu, bagi anak yang ditunjuk sebagai induk dapat melatih kemampuan berpikir dan berstrategi, serta jiwa pemimpin agar dapat membawa para anggota lainnya selamat tanpa tertangkap oleh penjaga garis. Bagi anak yang ditunjuk sebagai anak elang, mereka dapat memahami arti kerja sama tim dan mematuhi perintah. Hal-hal tersebut sangat bermanfaat bagi mereka hingga dewasa, terutama ketika berada di dunia kerja.

Oleh : Tika Dwi

Permainan Tradisional Jawa – Jawa Barat - 2

3. Egrang atau jajangkungan

Egrang atau jajangkungan adalah permainan yang memerlukan keahlian khusus. Pemainnya harus berdiri pada injakan bambu sepanjang 30cm pada bambu berukuran kurang lebih 210cm dan kedua tangan harus memegang tongkat bambu bagian atas, sehingga untuk bermain egrang ini membutuhkan latihan keseimbangan tubuh. Biasanya egrang dijadikan untuk lomba, seperti lomba lari, pemenangnya adalah yang mencapai garis finis terlebih dahulu tanpa jatuh/menginjakkan kaki ke tanah.



4. Bebentengan

Bebentengan adalah permainan yang dapat dilakukan anak laki-laki maupun perempuan, permainan ini membutuhkan area yang cukup luas dan membutuhkan dua pohon(dijadikan benteng) yang berjarak sekitar 2-4meter.

Aturan bermain: Minimal ada 6 anak yang kemudian dibagi menjadi 2 kelompok. Tiap-tiap kelompok berusaha memegang benteng kelompok lawan, dan kelompok yang berhasil menyentuh atau memegang benteng lawan terlebih dahulu adalah pemenangnya. Kemudian kelompok yang kalah mendapat hukuman dari kelompok yang menang.



5. Oray-orayan

Oray-orayan, biasanya dimainkan oleh anak laki-laki tapi sering pula anak perempuan ikut bermain. Permainan Oray-orayan tidak ada unsur perlombaan, tapi untuk sebagai hiburan saja. Oray-orayan biasanya dimainkan oleh banyak anak sekaligus misalnya lebih dari 15 orang, mereka berderet berbaris memegang pundak temannya sehingga membentuk barisan yang panjang dan mereka berjalan melingkar seperti oray, sambil bernyanyi.



6. Kelom batok

Kelom batok adalah permainan yang mengharuskan pemainnya mengatur keseimbangan serta ketahanan tubuh. Kelom atau pijakan dibuat dari tempurung kelapa yang dibelah dua. Umumnya tempurung kelapa yang digunakan adalah tempurung dengan diameter besar dan sudan tua. Tempurung kelapa yang sudah mengering dibagi dua dan bagian tengahnya diberi lubang untuk dipasang tali yang terbuat dari serat pohon pisang atau tali ijuk muda. Pemilihan serat pohon pisang ataupun serat ijuk muda, selain lentur dan kuat, juga memudahkan pemainnya untuk memainkan kelom batok.

Cara main: Tidak jauh berbeda dengan permainan egrang, yang membedakan adalah, pada permainan kelom batok tumpuan selain pada bagian kaku (pijakan) juga pada tangan ( tali pegangan). Karena tali selain berfungsi sebagai pegangan juga sebagai kendali mengatur naik turunnya kaki.  Seperti halnya permainan egrang, kelom batok dimainkan sebagai adu ketahanan, fisik juga strategi. Hal yang paling menarik dari permainan kelom batok bukan hanya kepiawaian saat mengatur keseimbangan tubuh maupun kekuatan fisik, tetapi juga dari unsur suara yang dihasilkan tempurung kelapa saat dimainkan. Semakin nyaring suaranya dan membuat harmoni nada, itulah pemain yang terbaik.



7. Ketepel atau bandring

Ketepel atau bandring adalah Mainan yang menggunakan dahan yang bercabang dua dan seimbang. Mainan ini adalah termasuk mainan yang populer dan masih bertahan, meskipun penggunaannya berbeda dengan masa lalu, yaitu untuk berburu tetapi masa sekarang hanya digunakan untuk belajar menembak sasaran. Bandring atau ketepel dianggap mainan yang berbahaya, dan akhirnya banyak dihindari dan tidak di mainkan. Mainan yang memakai tiga material yaitu kayu, karet, dan kulit. Kayu sangat mudah sekali mendapatkannya untuk material karet biasanya mereka menggunakan bahan-bahan yang ada dari mulai menggunakan karet kotor karet untuk celana pendek, karet ban bagian dalam, sampai karet gelang yang di "untun" di rangkai seperti rantai .

8. Kobak atau logak

Kobak atau logak yaitu lubang kecil yang dangkal.  Perlengkapan alat yang digunakan dalam permainan ini beberapa gundu dan lobang kecil yang dangkal sebagai sasaran untuk mencapai kemenangan. Dilakukan oleh anak-anak atau remaja laki-laki antara 2 sampai 5 orang dan bermain perorangan. Tempat bermain di ruang terbuka yang cukup luas.  Permainan ini suka memakai taruhan uang atau karet gelang. Permainan ini di samping sebagai hiburan juga melatih kecermatan dan ketangkasan melempar.

9. Meong Bangkok

Meong Bangkok bisa dilakukan oleh anak laki atau perempuan, dilakukan di tempat yang cukup luas, jumlah pemain antara 12 atau 20 orang yang berpasang-pasangan membentuk dua kelompok untuk bertanding. Permainan ini merupakan hiburan yang mengasyikkan dan mengandung unsur olah raga serta keterampilan memelihara keseimbangan. Terdapat di daerah Cibatu Kabupaten Garut.

10. Ngadu Muncang

Ngadu Muncang merupakan permainan anak-anak maupun dewasa laki-laki, merupakan pertandingan antara 2 orang pemilik kemiri, dapat dilakukan di tempat terbuka atau tertutup. Alat yang digunakan terdiri dari kemiri yang dipertandingkan, penggepit, bantalan yang dibuat dari kayu keras, penampang bantalan, dan gegendir/pemukul dari kayu yang keras. Terdapat unsur taruhan uang di kalangan pemain dewasa, sedangkan anak-anak taruhannya berupa kemiri atau kelereng. Di samping merupakan hiburan juga merupakan latihan memilih kemiri yang besar daya tahannya . Permainan ini masih dilakukan di beberapa daerah di Jawa Barat.

Selain dari permainan-permainan di atas, masih banyak permainan tradisional Jawa Barat yang lain seperti: gagarudaan, dam-daman, ular tangga, sapintrong dan lain sebagainya.

Oleh: Novita Prahastiwi
Referensi:
Prana, Indiyah. 2010. Permainan Tradisonal Jawa. Klaten: Intan Pariwara.
http://www.indonesiadalamtulisan.com/2012/07/permainan-tradisional-jawa.html
http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=1006&lang=

Monday, March 2, 2015

Permainan Tradisional Jawa – Jogja

Setelah sempat membahas mengenai permainan tradisional jawa dari Jawa Barat dan Jawa Tengah, sekarang kita akan membahas permainan tradisional dari Jogja.



  1. Ancak-Ancak Alis

    Permainan ancak-ancak alis bisa dimainkan oleh anak laki-laki maupun perempuan, dan dimainkan beramai ramai.

    Cara bermain:

    Dua orang anak menggabungkan kedua tangan mereka dan diangkat tinggi-tinggi agar bisa dilewati teman mereka. Kemudian anak-anak yang lain membuat rangkaian, setelah itu satu persatu memasuki melewati kedua anak tadi, sambil menyanyikan lagu. Permainan ini hampir sama dengan permainan Ular Naga, hanya saja lagunya yang berbeda.
  2. Udan barat

    Permainan ini menggunakan pecahan ubin/genting disebut gacuk.

    Cara Bermain:

    Pemain melemparkan batu ke garis, pemain yang gacuknya paling dekat dengan garis dia yang mulai main. Gacuk dipasang di kaki, kemudian orang berjalan jingkat jingkat dengan gacuk terpasang di satu kaki. Konsekuensi bagi yang kalah dalam permainan ini harus menggendong teman yang menang, dari garis ke garis.
  3. Bangun duduk

    Permainan ini dapat dimainkan anak laki-laki maupun perempuan. Minimal pemain dalam permainan ini tiga orang. Permainan ini selain bisa untuk mengisi waktu luang juga bisa melatih kecepatan, karena dalam permainan ini diharuskan untuk berlari.

    Cara bermain:

    Semua pemain melakukan “hom pim pah” kemudian siapa yang kalah menjadi penjaga. Setelah diketahui siapa yang menjadi penjaga permainan dapat dimulai, nah pemain yang menang bisa memulai mengganggu yang kalah. Penjaga/pemain yang kalah harus berhasil mengejar teman yang menang dan menyentuhnya, apabila berhasil maka pemain yang disentuh giliran jaga tetapi syaratnya pemain yang disentuh harus dalam posisi berdiri karena apabila dalam posisi duduk(jongkok) maka pemain tidak bisa disentuh dan penjaga harus mencari teman lain yang tidak jongkok. Jadi pemain menang harus waspada, bila sudah terlalu dekat dengan penjaga harus segera lari atau duduk. Pemain yang sudah jongkok tidak bisa asal berdiri, pemain harus menunggu disentuh teman lain yang tidak jongkok (bebas), bila semua pemain jongkok maka pemain jaga harus menghitung dan saat itu semua pemain harus berdiri lagi dan mulai main seperti awal.
  4. Gobak Sodor

    Permainan ini bisa dimainkan minimal 6orang, kemudian pemain dibagi dalam 2 kelompok, dalam 1 kelompok bisa campuran ada anak laki-laki dan perempuan. Permainan Gobak Sodor, biasanya dilakukan di halaman rumah yang agak luas. Permainan ini juga bisa dimanfaatkan untuk olahraga.

    Manfaat dari melakukan olahraga ini adalah kecepatan karena pemain harus berlari, kecermatan(karena harus menjaga pintu agar tidak kecolongan), kekompakan, sportifitas, dan senang(mengisi waktu luang).

    Cara bermain:

    • Sebelum permainan dimulai arena dibuat dulu atau dibuat garis-garis yang berguna sebagai pembatas dan pintu. Garis-garis yang diperlukan bisa dibuat dengan kapur.
    • Arena/garis yang diperlukan pun sederhana, kurang lebih hanya seperti ini:



      Bentuknya/jumlah pintu (garis horizontal) bisa disesuaikan dengan banyaknya pemain tiap kelompok. Gambar di atas digunakan bila jumlah pemain tiap kelompok 4 orang, jadi 3 orang jaga di tiap garis horizontal dan satu di garis vertikal. Namun bisa juga bila hanya ada 3 orang, sehingga 2 jaga digaris horizontal dan satu orang harus merangkap tugas jaga di garis/pintu depan sekaligus di garis vertikal.
    • Pemain dibagi dalam dua kelompok dengan cara setiap 2orang melakukan pingsut(suit), kemudian pemain yang kalah dan menang berkumpul dengan sesama yang kalah/menang.
    • Seperti permainan-permainan yang lain, pemain yang kalah bertugas sebagai penjaga.

      Aturan mainnya: Penjaga harus mencegat lawan agar tidak bisa lolos, masing-masing orang satu pintu (garis horizontal), namun harus ada satu yang menjaga pembatas tengah (garis vertikal tengah). Penjaga garis horizontal tugasnya berusaha menghalangi lawan yang berusaha melewati garis, sedangkan yang bertugas menjaga garis vertikal harus menjaga seluruh garis batas yang ada di tengah lapangan.

      Semua pemain yang menang harus melewati seluruh pintu(garis horizontal), kemudian kembali lagi melewati pintu-pintu tadi tanpa boleh terkena/tersentuh oleh pemain jaga. Bila berhasil maka mendapat poin dan mengulangi lagi melewati pintu-pintu, tapi bila tersentuh pemain jaga maka pemain harus rela untuk bertukar posisi dengan pemain jaga.

      Kata “Gobak Sodor” sendiri di ambil dari kata Go Back to Door. Mengapa dinamakan seperti itu, karena dalam permainan ini pemain harus melewati pintu-pintu yang setiap pintu selalu ada halangan, kemudian pemain harus kembali lagi ke pintu awal. Apabila kita cermati sebenarnya permainan ini mengandung nasihat, yaitu “Dalam kehidupan seseorang pasti melalui tahap-tahap dari lahir, remaja, namun tentu tiap tahapan itu memiliki rintangan/halangan, hingga pada akhirnya kita akan kembali lagi yaitu kepada Sang Pencipta.”
Selain dari permainan di atas masih ada beberapa permainan yang lain, seperti: gotri legendri, bethet thing thong, tawonan, jek-jekan, engklek, jamuran, dingklik oglak aglik, kempyeng, dan mungkin juga masih ada permainan tradisional dari Jogja yang tidak saya ketahui.

Oleh: Novita Prahastiwi
Referensi: http://jogjaicon.blogspot.com/2011/03/dolanan-bocah-ala-yogyakarta-yang.html

Thursday, January 29, 2015

Bermain Boi-Boian Bersama Teman

Boi-boian adalah permainan tradisional yang berasal dari jawa. Permainan ini biasanya dimainkan oleh anak laki-laki dan perempuan. Anak-anak pedesaan sering memainkannya pada sore hari. Kita tidak pernah lagi menjumpai permainan tradisional ini. Boi-boian hampir sama dengan permainan bowling. Kita harus melempar bola ke sasaran yang akan dituju. Untuk membuat bola, kita bisa menggunakan kertas yang digulung kemudian diikat dengan karet gelang atau kita bisa menggunakan bola kasti. Setelah itu, kita mengumpulkan pecahan batu atau genteng yang nantinya akan disusun menjadi piramida.

Permainan ini terdiri dari dua kelompok. Satu kelompok bertugas untuk melempar bola sedangkan satunya menyusun kumpulan batu menjadi piramida atau tersusun ke atas. Semakin banyak anggota yang ikut, semakin seru permainan ini. Permainan ini membutuhkan kecepatan dalam menyusun kumpulan- kumpulan batu dan kerja sama sesama anggota juga dibutuhkan.


Gambar 1. Melempar Bola

Kelompok yang bertugas melempar harus bisa melempar hingga mengenai sasaran. Usahakan kita melempar bola tersebut sekencang mungkin, sampai kumpulan batu yang disusun oleh tim lawan terjatuh. Saat melempar bola harus dilakukan secara bergantian dengan sesama anggota. Nantinya ada tim lawan yang akan menghadang serangan bola yang dilempar. Jika ada lemparan bola tersebut yang mengenai anggota lawan berarti anggota tersebut tidak bisa melanjutkan permainan.


Gambar 2. Susunan Batu Menjadi Piramida

Kelompok yang bertugas menyusun batu, harus bisa menyusun sampai membentuk piramida. Jika tumpukan batunya terjatuh terkena bola, tim tersebut harus kembali menyusun batu yang terjatuh. Dalam kelompok tersebut, satu orang harus menjaga supaya tumpukan batu tersebut tidak terjatuh. Jika ada bola yang mengenai kelompok penyusun atau penjaga batu, berarti dia gugur. Anggota yang terkena lemparan bola tidak bisa ikut permainan dan berarti anggota dalam kelompok tersebut berkurang. Usahakan untuk menyusun kumpulan batu tersebut dengan cepat supaya tidak bisa dirobohkan oleh tim penyerang. Permainan ini akan selesai, jika tim penyusun berhasil menyusun batu sampai membentuk piramida. Setelah batu batu tersebut telah selesai tersusun, tim penyusun harus cepat cepat mengatakan “Boi”. Nantinya tim penyerang akan bergantian menjadi tim yang menyusun kumpulan batu-batu tersebut sedangkan kelompok satunya bertugas sebagai penyerang.


Gambar 3. Permainan Boi-Boian

Permainan Boi-boian ini sangat bermanfaat sekali bagi anak anak. Banyak hal hal yang positif yang bisa kita ambil dari permainan ini. Permainan ini bisa mengajarkan anak anak tentang kerja sama sesama anggota dan bisa melatih kecepatan fisik. Permainan tradisional ini bisa menjadi salah satu pilihan untuk dimainkan oleh anak-anak. Permainan ini tidak terlalu bahaya bagi anak-anak sehingga orang tua tidak perlu khawatir. Kita tahu bahwa permainan ini wajib diperkenalkan kepada anak-anak sehingga permainan tradisional ini tidak hilang begitu saja.

Wednesday, January 28, 2015

Cara Asyik Bermain Kelereng

Permainan kelereng adalah permainan yang menggunakan bola kelereng (di beberapa tempat disebut juga “gundu”). Permainan kelereng adalah salah satu permainan tradisional yang ada di kalangan anak anak dan Jaman dulu begitu populer sekali. Biasanya permainan ini dimainkan dengan cara disentil atau dimainkan di tanah. Jaman sekarang ini, permainan ini jarang sekali ditemukan. Waktu kecil, pasti kita ingat waktu sekolah pasti kita memainkan kelereng bersama teman kita. Sekarang permainan ini jarang ditemukan karena seiring perkembangan jaman, dan banyak ditemukan mainan mainan model terbaru yang menarik perhatian. Biasanya, permainan ini dimainkan di tanah dan disentil seperti gambar di bawah ini. Jika permainan ini dilakukan dengan teman teman pasti sangat menyenangkan sekali.

Kali ini, saya akan mempunyai cara unik bermain kelereng. Cara permainan kali ini, berbeda dari biasanya. Permainan ini tidak begitu sulit dari biasanya. Berikut cara permainan kelereng yang akan saya bahas:

1. Membuat kelompok

Permainan ini harus beranggotakan lebih dari satu orang. Setiap anggota harus memiliki beberapa kelereng. Setiap kelereng yang dipegang nantinya akan ditebak oleh orang lain. Dalam permainan ini, harus dilakukan secara kelompok karena nantinya semua kelereng akan di tebak oleh anggota yang lain secara bergantian. Sebaiknya, untuk permainan ini harus memiliki kelereng lebih dari lima biji.


Gambar 1. Bermain kelereng di pinggir rel kereta

2. Menggenggam kelereng yang diambil

Kita mengambil kelereng yang diambil dan genggam di tangan. Kita harus mengingat jumlah kelereng yang kita pegang. Nantinya kita harus bisa menebak jumlah semua kelereng semua teman kita. Seandainya, kita mengambil kelereng lima biji di tangan, jangan sampai anggota lain tahu jumlah kelereng yang dipegang. Usahakan kita menggenggam kelereng yang rapat di tangan kita, jangan sampai kelihatan. Cara menggenggam kelereng seperti gambar di bawah ini:


Gambar 2. Menggenggam kelereng

3. Menyebutkan jumlah kelereng

Setelah semua anggota menggenggam masing-masing kelereng di tangan, dimulai oleh orang pertama untuk menyebutkan satu angka yang merupakan perkiraan jumlah keseluruhan kelereng dalam kelompok tersebut. Sebagai contoh, saya menyebutkan angka 20 sebagai angka yang saya pilih sedangkan yang lain tidak boleh menyebutkan angka yang sama. Angka tersebut disebutkan secara bergantian oleh setiap anggota yang lain. Misalkan anggota lain menyebutkan angka 10, 16 dan 17.

4. Memperlihatkan kelereng yang digenggam di tangan

Setelah itu, semua anggota memperlihatkan kelereng yang ada ditangannya. Anggota yang menyebutkan angka yang sesuai dengan jumlah keseluruhan kelereng, dia berhak mendapatkan semua kelereng yang digenggam oleh anggota lain. Setelah semuanya memperlihatkan kelereng yang dipegang masing-masing, dan ternyata jumlah semua kelereng ada di tangan teman saya dan saya semuanya berjumlah 20. Angka yang saya pilih adalah benar berarti semua kelereng yang dipegang oleh teman saya menjadi milik saya.


Gambar 3. Memperlihatkan kelereng

Kesimpulan yang didapat adalah jangan pernah meninggalkan permainan tradisional karena sebenarnya banyak sekali hal yang menarik dan sangat berguna yang bisa diambil dari permainan permainan jaman dulu, apalagi permainan kelereng. Permainan kelereng ini dapat dimainkan dengan berbagai cara, jadi tidak ada alasan untuk tidak menyukai permainan tradisional dan bagi anak anak sangat berguna sekali membantu dalam pendidikannya.

Oleh ; Jenny
Gambar:
1. http://www. hipwee. com/wp-content/uploads/2014/09/194462_bermain-kelereng-pinggir-rel-kereta_663_382. jpg
2. http://3. bp. blogspot. com/_OrNDs4qOgQQ/TPp9juMZovI/AAAAAAAADkw/7K_gDE5nGkw/s1600/image4. jpeg
3. http://img821. imageshack. us/img821/8522/20110606102048. jpg

Tuesday, January 20, 2015

Berlatih Kecepatan dengan Galah Asin

Ada dua kelompok anak sedang berkumpul di lapangan. Kira-kira apa yang akan mereka lakukan? Main bulu tangkis? Voli? Atau tenis? Ternyata bukan ketiganya. Mereka akan bermain galah asin.

Galah asin adalah salah satu permainan tradisional dari Indonesia. Permainan galah asin bisa dimainkan oleh laki-laki maupun perempuan tanpa ada batasan umur. Permainan ini mempunyai nama berbeda di berbagai daerah di Indonesia. Di Jawa Barat dan Jakarta permainan ini bernama ‘galah asin’ atau ‘galasin’. Di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah permainan ini disebut ‘gobag sodor”. Sementara di Riau permainan ini dikenal dengan nama ‘cak bur’ atau ‘main belon’.

Kata ‘galah’ dan ‘sodor’ berarti sebuah tombak atau tongkat panjang. Sementara kata ‘gobag’ berarti bergerak dengan bebas. Begitu pun kata ‘asin’ menunjukkan daerah bebas.

Lalu apa yang dapat dilakukan dengan tongkat dan daerah bebas?


Gambar 1. Galah asin

Pemain menggunakan tongkat atau benda lain untuk membuat garis arena permainan. Arena ini tidak mempunyai batasan ukuran tertentu. Syarat utamanya pemain dapat bergerak leluasa di arena permainan yang terdiri dari 6 petak. Bisa juga arena hanya terdiri dari 4 petak jika jumlah pemainnya sedikit. Petak-petak inilah yang menjadi daerah bebas.

Setelah arena permainan selesai dibuat, saatnya untuk membentuk kelompok. Permainan galah asin terdiri dari 2 kelompok, yaitu kelompok penyerang dan kelompok penjaga. Masing-masing kelompok bisa terdiri dari 3 sampai 5 orang. Kemudian pemain harus menentukan kelompok mana yang bertugas sebagai penjaga dan kelompok mana yang menjadi kelompok penyerang.

Kelompok yang bertugas untuk menjaga akan berdiri di sepanjang garis petak baik secara vertikal maupun horizontal. Sementara kelompok penyerang harus berusaha melintasi petak-petak dan bergerak cepat untuk menghindari penjaga. Pemain akan mulai permainan dari sisi luar arena permainan kita sebut saja sebagai titik ‘mulai’. Lalu melintasi petak sampai di sisi luar arena yang lain atau titik ‘balik’. Kemudian kembali melintasi petak menuju titik ‘mulai’. Seperti yang terlihat pada ilustrasi permainan galah asing di samping. Jika salah satu pemain penyerang tertangkap, maka kelompok penyerang kalah.

Peraturannya tidak hanya itu. Ada beberapa peraturan lain yang harus diperhatikan oleh kelompok penjaga maupun kelompok penyerang. Kelompok penjaga harus tetap berada di garis ketika akan menangkap tim penyerang. Sementara kelompok penjaga tidak boleh keluar arena permainan kecuali ketika berada di titik ‘mulai’ dan dan titik ‘balik’. Selain itu, setiap petak hanya boleh diisi oleh satu penyerang. Jika satu petak berisi dari 2 orang pemain penyerang, maka kelompok serang dinyatakan kalah. Saat kelompok penyerang kalah, maka terjadi perubahan posisi. Kelompok penyerang akan menjadi kelompok penjaga, sementara kelompok penjaga akan menjadi kelompok penyerang. Suatu kelompok bisa dikatakan menang ketika seluruh pemain dalam kelompok itu berhasil melewati penjaga dan kembali ke titik mulai.

Permainan bisa diulang berkali-kali sesuai kesepakatan pemain. Saat kita bermain galah asin kita bisa berlatih meloloskan diri dengan cepat. Tidak hanya itu, permainan galah asin juga melatih kelincahan, komunikasi antar pemain, kepemimpinan, dan mengatur strategi. Setiap pemain harus bisa saling bekerjasama baik untuk meloloskan diri maupun untuk menangkap pemain lawan. Bagaimana? Bermain galah asin sangat menyenangkan dan menyehatkan, bukan?

Oleh : Listya Dara Sunda Prabawa
Sumber:
http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/626/Galah-Asin-Permainan/
http://id.voi.co.id/voi-pesona-indonesia/5787-gobak-sodor-permainan-tradisional-indonesia/

Gambar:
Ilustrasi Permainan Galah Asin, dibuat oleh: Listya Dara

Thursday, January 15, 2015

Tali Merdeka, Permainan Tradisional Daerah Riau

Tali Merdeka adalah salah satu jenis permainan tradisional yang berasal dari daerah Riau. Anak-anak melayu yang dibesarkan di era 80 dan 90-an tentunya sangat familiar dengan permainan ini. Permainan yang membutuhkan kekuatan dan kelincahan fisik ini masih menjadi permainan favorit anak-anak perempuan pada era tersebut. Inti dari permainan tali merdeka ini adalah melompati rentangan tali karet dengan berbagai ketinggian yang diukur dari badan pemain yang memegang rentangan tali.

Mengapa di sebut dengan permainan tali merdeka? Tidak ada catatan sejarah yang bisa menjelaskan tentang asal muasal penamaan permainan ini. Jika dilihat dari cara bermain, maka penamaan permainan ini bisa dikaitkan dengan cara pemegang tali saat memegang tali pada ketinggian terakhir. Yaitu tali dipegang dengan cara mengacungkan kepalan tangan setinggi mungkin di atas kepala layaknya para pejuang yang sedang meneriakkan pekikan ‘merdeka’.

Permainan tali merdeka sebenarnya juga dikenal di berbagai daerah lain. Hanya saja mungkin penamaan dan tata caranya sedikit berbeda. Di beberapa daerah permainan ini dikenal dengan nama lompat tali, lompat tinggi, dan lainnya.


Permainan Tali Merdeka

Jumlah Pemain dan Peralatan Permainan

Idealnya permainan Tali merdeka dilakukan oleh 3-10 orang pemain. Namun, jika tidak memungkinkan bisa juga dilakukan oleh dua orang pemain. Namun, untuk bisa memainkan permainan ini hanya dengan dua orang pemain dibutuhkan tiang sebagai alat bantu untuk mengikat salah satu ujung tali karet.

Permainan tali merdeka bisa dilakukan secara perorangan maupun kelompok. Jika dilakukan dalam kelompok, pemain dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok pertama sebagai pemegang karet dan kedua kelompok pelompat karet.

Peralatan yang dibutuhkan pada permainan ini adalah tali karet, yaitu karet gelang yang dijalin memanjang. Gelang karet yang digunakan adalah gelang karet biasa yang banyak dijual di pasar. Biasanya digunakan untuk mengikat plastik-plastik pembungkus makanan dan barang-barang lain.

Cara Bermain Tali Merdeka

Inti dari permainan tali merdeka ini adalah melewati rentangan tali karet dengan cara melompat. Jika pemain bisa melompati rentangan tali karet, maka ia boleh terus menjadi pemain pelompat hingga ia gagal melewati rentangan tali karet. Jika pemain gagal melompati rentangan karet, maka ia harus menggantikan posisi pemain lain menjadi pemegang tali karet.

Bagaimana ukuran tinggi rentangan tali karet yang harus dilompati? Tinggi rentangan tali karet dimulai dari bawah, kemudian terus dinaikkan mengikuti ruas-ruas tertentu pada tubuh pemegang tali karet. Adapun tingkatan ketinggian rentangan tali yang harus dilompati oleh pemain tali merdeka adalah:
  1. Tali sejajar telapak kaki (di atas tanah/lantai).
  2. Tali sebatas lutut
  3. Tali sebatas pinggang
  4. Tali berada sebatas dada
  5. Tali berada sebatas telinga
  6. Tali berada sebatas kepala
  7. Tali berada sebatas satu jengkal di atas kepala
  8. Tali berada pada posisi tertinggi, yaitu tali diletakkan di ujung jari yang diacungkan lurus tinggi-tinggi di atas kepala.

Setelah berhasil melewati tantangan tertinggi maka tinggi rentangan akan diturunkan secara bertahap. Akan tetapi bukan berarti tantangan permainan ini berkurang. Karena, pada tahap permainan berikutnya pemain akan dihadapkan pada tingkat kesulitan yang berbeda. Sekalipun tinggi rentangan tali akan diturunkan secara bertahap. Pada tahapan menurun ini, tantangannya bisa berupa penambahan hitungan lompatan dan gerakan membelit dengan jumlah hitungan yang semakin lama semakin besar.

Adapun grup atau pemain yang dinyatakan menang adalah grup/pemain yang berhasil melewati semua tantangan terlebih dahulu. Nah, demikian sekilas informasi tentang permainan tali merdeka ini. Semoga bermanfaat!

Oleh : Neti Suriana
Sumber gambar: http://fandychaz.blogspot.com/2011/07/permainan-rakyat-jaman-dulu.html